Nov 21, 2018
  • Hubungan Internasional
  • 081226993704
  • -

Sapa Papua

  • Ekspresikan HI mu
  • Oct 19, 2018
  • 78

Lain padang lain ilalang. Peribahasa ini tentu sudah sering kita dengar untuk menggambarkan bagaimana keragaman adat dan budaya yang ada di Indonesia. Setiap wilayah memiliki adat istiadatnya tersendiri dengan keragaman dan perbedaan yang luar biasa. Hal ini juga tentunya memiliki pengaruh pada setiap orang yang mendatangi tempat tersebut. Tak jarang seorang pendatang akan mengalami “culture shock” ketika awal melihat dan mengalami langsung perbedaan yang ada. Tentunya hal ini juga berlaku bagi seorang dosen yang mengajar di tempat yang berbeda dengan tanah kelahirannya. Entah itu di perkotaan/pinggiran, ataupun dekat/jauh dari pemerintah pusat.


Artikel ini ditulis untuk mencoba memberikan gambaran tentang bagaimana mengajar di Papua, yang merupakan wilayah paling timur dari Indonesia. Adapun tujuan dari artikel ini ditulis sepenuhnya untuk kepentingan akademis. Pada kesempatan kali ini, HubunganInternasional.id berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan salah satu HI-Sir yang bernama Hendry Bakri, S.IP, M.Si. Beliau merupakan salah satu dosen yang mengajar di Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Berikut hasil wawancaranya:

 

HubunganInternasional.id (HI.id): Bisa tolong ceritakan, apa yang membawa anda sampai mengajar di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura?

 

Hendry Bakri (H.B): Sebelum saya menjawab pertanyaan wawancara. Izinkan saya ucapkan terimakasih untuk hubunganinternasional.id, saya merasa tersanjung dihubungi dan diwawancarai. Tak lupa saya ucapkan terimakasih untuk dua orang yang berjasa memperkenalkan saya dengan HI. Yang pertama, Kak Mattewakan (HI Unhas ’93), beliau memperkenalkan saya dengan senior-senior HI Unhas, memberikan saya buku HI serta mengantar saya ke bandara menuju Papua. Yang kedua, saudara Achmad Zulfikar, memperkenalkan saya dengan AIHII.

 

Jika saya boleh sedikit bercerita, keberadaan saya di HI USTJ tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Di tahun 2016, istri (waktu itu masih calon istri) memasukkan lamaran kerja –saya dan istri- ke USTJ, dia mendapat info dari rekan Achmad Zulfikar. Istri lebih dulu berangkat ke Papua di bulan Maret 2016, sedangkan saya pada saat itu masih enggan ke Papua, sulit bagi saya meninggalkan Kota Makassar. Makassar adalah zona nyaman, saya menimba ilmu dari S1 dan S2 di Ilmu Politik Unhas. Banyak aktifitas dan sahabat di Makassar. Butuh dua bulan untuk saya bisa menentukan pilihan, tepatnya bulan Mei 2016 saya putuskan untuk ke Papua. Semua karena masukan dari beberapa sahabat dan senior di Makassar. Di USTJ, istri mengabdi di Prodi Ilmu Pemerintahan. USTJ tidak ada Prodi Ilmu Politik, maka saya ditempatkan di Prodi HI. Bapak Aria Aditya Setiawan, S.IP, M.Si (wakil dekan/dosen HI) banyak berjasa bagi saya dan istri sejak kami datang ke USTJ. Beliau banyak membantu kami dari pengurusan NIDN, hingga kepangkatan. Bapak Aria yang juga menentukan mata kuliah bagi saya untuk mengajar, mata kuliah yang sesuai dengan basic keilmuan saya Politik seperti: Pengantar Ilmu Politik, Ide-ide Politik, Komunikasi Politik, Teori Politik Klasik dan Kontemporer, Politik Pemerintahan Afrika. Kaprodi kami juga, Bapak Yakub Tasik, S.IP, MKP juga S1-nya HI Unhas. Sehingga banyak dibantu beliau terhusus pengalaman beliau selama di USTJ

 

(HI.id): Sudah berapa lama anda mengajar di USTJ?

 

(H.B): Saya terhitung datang ke USTJ bulan Mei tahun 2016 menjadi dosen, saya mengajar pada bulan Agustus 2016 tahun ajaran baru. Dari bulan Mei hingga Agustus saya membantu rekan-rekan dosen HI untuk akreditasi Prodi dan melakukan diskusi lepas dengan beberapa mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Saya baru bersentuhan langsung dengan mahasiswa HI pada bulan Agustus, dan dipercayakan Kaprodi menjadi Dosen Wali mahasiswa HI angkatan 2016.

 

(HI.id): Pernahkah anda mengajar di tempat lain sebelum ke Jayapura, Papua?

 

(H.B): Sebelum ke Papua saya banyak menghabiskan waktu di Unhas. Saya, istri dan saudara Achmad Zulfikar, dipercaya mengelola Jurnal Pascasarjana Politik di Unhas Makassar. Saya menjadi pengajar lepas atau relawan bersama beberapa komunitas di Makassar. Cita-cita saya bukanlah dosen. Saya lebih menikmati menjadi peneliti atau surveyor. Beberapa dosen senior memberikan saya pencerahan terkait Tridarma Perguruan Tinggi: Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Dengan menjadi dosen saya bisa menjalankan hobi saya sekaligus, meneliti dan pengabdian pada masyarakat. Itulah gairah saya!

 

(HI.id): Momen pertama menginjakkan kaki di tanah Papua, seperti apa rasanya ketika itu?

 

(H.B): Dari Makassar saya telah banyak mendapat info Papua dan USTJ. Menyebut kata timur (Papua), tentu dipikiran khalayak umum adalah Freeport, ketidakadilan, biaya hidup tinggi, dan sebagainya. Awal pertama datang saya cukup sulit beradaptasi, sempat mengalami frustasi dan ingin kembali ke Makassar, karena perbedaan kultur akademik yang saya rasakan. Saya merasakan kesunyian hingga saya berada di titik jenuh, berbeda dengan di Makassar yang saya temukan adalah budaya diskusi di kantin, di pelataran, dan aktifitas mahasiswa organisasinya cukup kuat. Pelan-pelan saya menyadari, keberadaan saya di Papua khususnya HI USTJ adalah rencana mahakuasa untuk saya bisa keluar dari zona nyaman, dan memulai hidup baru. Keberadaan saya di Papua adalah bersama-sama dengan rekan dosen yang lain mencerdaskan Papua dan memajukan Papua dengan apa yang kami miliki. Saya lalu bertemu mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan mengajak mereka duduk diskusi, hingga kami membentuk komunitas literasi (Sako EXplore). Berjalannya waktu, komunitas ini berkembang dan memfokuskan pada literasi di Papua. Saya meminta kesediaan, mengajak beberapa rekan di luar Papua untuk bergabung tujuannya sama-sama membangun dan menoleh ke timur. Rekan-rekan di luar Papua membantu setiap bulan mengirim buku ke kami. Sehingga kami membangun jaringan literasi one book for Papua.

 

(HI.id): Interaksi pertama di dalam kelas dengan HI-bro dan HI-sis di Universitas anda, bisa ceritakan kembali momen-momen itu?

 

(H.B): Interaksi pertama kali, bagi saya seru. Butuh perjuangan, rekan-rekan dosen di Kota-Kota besar tentu lebih mudah mengajar, mahasiswanya adalah lulusan SMA yang bisa saya katakan produk jadi, sedangkan kami, mahasiswa datang dari segala keterbatasan selama SMA, baik minimnya fasilitas hingga tingkat ekonomi keluarga. Tapi di situlah serunya. Bila di Kota besar lebih banyak mengajar menggunakan kata-kata rumit, kami di sini puya tantangan menyederhanakan yang rumit sehingga mudah dipahami mahasiswa. Sebagai seorang dosen saya pun wajib menghargai budaya Papua –kesukuan- sesekali saya menggunakan kalimat Papua, agar mereka mudah mengerti.

 

Memang mereka datang kuliah dengan segala keterbatasan. Ada hal yang perlu dicatat, beberapa dari mereka punya prestasi membanggakan, hanya jarang terekspose ke media. Prestasi anak Papua jarang dipublish media, yang paling sering dipublish adalah anarkisme mahasiswa timur, padahal di belahan timur punya bakat dan prestasi. Mereka hanya bercerita kepada beberapa dosen saja, sehingga harapan saya dosen dan mahasiswa perlu membangun interaksi sosial tanpa ada sekat, tapi tetap dalam batasan saling menghargai dan menghormati. Mahasiswa Papua punya potensi, tetapi kebanyakan memiliki sifat pemalu dan takut salah, dikarenakan mereka hidup dengan stigma-stigma orang di luar sana bahwa mereka terbelakang. Untuk maju satu langkah mereka cenderung minder. Mereka butuh motivasi ekstra dan pendampingan, bangkitkan semangat juang mereka. Yakinkan bahwa mereka juga bisa, anak-anak di timur jangan dianaktirikan, tapi diberi perhatian, kembangkan apa yang mereka miliki.

 

Fasilitas penunjang pendidikan masih sedikit menjadi kendala, terutama bacaan terbaru. Memang ada toko buku, tetapi ada beberapa mahasiswa yang tingkat ekonominya ke bawah, lalu masih bisa dikatakan sulit mendapatkan bacaan terbaru. Saya pikir, mereka di kelas cukup hebat, hanya perlu ditingkatkan lagi budaya membaca, diskusi, menulis dan berorganisasi.

 

(HI.id): Pengalaman anda, mengajar di Papua dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di sana, tentu menjadi pengalaman yang berbeda bagi sebagian besar dosen khususnya yang menumpuk di Pulau Jawa. Bisa tolong anda jelaskan bagaimana keseruan-keseruan yang terjadi ketika anda mengajar mereka?

 

Hendry Bakri (H.B): Bagi saya mengajar mereka itu seru! Penuh dengan tantangan, apalagi ketika saya di kantin, mereka datang beramai-ramai menanyakan buku/hendak meminjam buku atau menanyakan saran terkait kegiatan organisasi mahasiswa. Kami diskusi di kantin. Saya memang sedang membangun budaya bahwa tidak selamanya belajar itu di kelas, tetapi belajar bisa di mana saja, semua murid semua guru. Bangun jaringan pertemanan dan saling bertukar ide.

Image: Dokumentasi pribadi Hendry Bakri

 

(HI.id): Bagi sekelompok oknum HI-bro dan HI-sis tertentu, mungkin memiliki pandangan yang berseberangan dengan pemerintah merupakan hal yang lazim. Hal ini dulunya juga mungkin pernah dialami oleh para oknum HI-sir dan HI-ma’am ketika masih aktif berada di bangku kuliah. Berkaitan dengan hal tersebut pula, sempat terdengar kabar beberapa waktu lalu terjadi aksi solidaritas oleh para oknum HI-bro dan HI-sis di sana. Sebagai seorang dosen, bagaimana anda berhadapan dengan kondisi seperti ini?

 

(H.B): Saya suka demonstrasi. Waktu saya mahasiswa saya senang turun ke jalan menyuarakan aspirasi. Kalau demonstrasi kita sudah hampir tidak mengenal namanya prodi, yang kita bawa adalah mahasiswa. Terkait mahasiswa Papua dan isu Papua, saya tidak bisa menjelaskan banyak hal, masalah Papua begitu kompleks, memang banyak bacaan bertaburan terkait isu Papua, hanya saya pikir jika ingin tau tentang Papua, ke Papualah dan rasakan apa yang mereka rasakan. Mahasiswa di Papua demo bagi saya mereka menjalankan fungsi mahasiswa agent of change dan social control, dan bagi saya itulah student movement. Saya hanya bisa menyarankan perkuat dirimu dengan belajar dan membaca banyak referensi. Demo tidak salah, tetapi wajib dengan cara elegan dan cerdas. Saya baru mau jalan tiga tahun di Papua, focus saya adalah membangun budaya literasi Papua sejak dini, karena bagi saya pendidikan adalah senjata paling ampuh menciptakan peradaban intelektual. Anak Papua lah yang paling tau soal Papua, sehingga yang paling cocok untuk menjawab pertanyaan adalah anak Papua

 

(HI.id): Apa contoh kegiatan di luar perkuliahan yang pernah anda lakukan bersama mahasiswa/mahasiswi anda untuk mengembangkan minat dan bakat mereka?

 

(H.B): Kegiatan (ada) banyak. Saya sering ikutkan mereka event di luar Papua bila ada. Bila ada rejeki kami ke Makassar, bersama istri patungan untuk membawa beberapa mahasiswa Papua ke luar. Bila ada penelitian dari instansi pemerintahan/lembaga survey kami libatkan mahasiswa, agar mereka juga belajar. Rumah kami adalah basecamp, bisa dikatakan kami ingin menjadi orang tua asuh bagi mereka. Kami sering ke pantai, diskusi, mendaki gunung, bahkan karena beberapa mahasiswa adalah musisi, kami sering bersama menciptakan lagu. Dari situ kami menemukan bakat-bakat hebat anak Papua.

Image: Dokumentasi pribadi Hendry Bakri

Anak-anak itu sudah hebat, saya dan istri hanya berupaya duduk bersama mereka membantu memecahkan setiap persoalan mereka. Dari mereka kami juga belajar banyak hal. Dari mereka kami belajar budaya Papua dan belajar mencintai Papua.

 

(HI.id): Sebagai seorang dosen, bagaimana anda mengembangkan soft skill dari mahasiswa/mahasiswi di sana?

 

(H.B): Mengembangkan soft skill dengan duduk diskusi, temukan solusi dan berkarya sesuai bakat yang mereka miliki. Sehingga mereka kenal potensi diri dan menjadi sejarah. Saya pertama membangun kepercayaan diri, mereka harus berani katakana bahwa saya bisa melakukan ii dan itu, dan mengajarkan mereka memahami setiap resiko dari tindakan yang diambil/diputuskan.

Image: Dokumentasi pribadi Hendry Bakri

(HI.id): Bagaimana dengan kegiatan kuliah oleh pakar ataupun dosen tamu di sana?

 

(H.B): Kuliah dari dosen tamu/pakar bagi saya masih terbilang minim (khusus di Prodi kami), untuk itulah harapan saya rekan-rekan dosen AIHII yang hebat-hebat, sesekali datanglah ke kampus kami untuk berbagi pengalaman dan Ilmu kepada adek-adek mahasiswa. Kami sangat hargai dan senang sekali.

 

(HI.id): Berikut ini, anda akan diberikan beberapa pertanyaan, ada pula pertanyaan yang mengharuskan anda memilih satu diantara dua dan jelaskan alasan pilihan anda. Mengajar di daerah yang dekat dengan pemerintah pusat (Pulau Jawa), atau mengajar di daerah pinggiran?

 

(H.B): Konsen saya ke timur, menoleh ke timur, agar terjadi pemerataan barat dan timur

 

(HI.id): Jika saya boleh memilih lokasi saya mengajar di dalam negeri, saya akan memilih untuk mengajar di Universitas… Jelaskan alasannya?

 

(H.B): Saya memilih mengajar di salah satu dari tiga provinsi berikut: Papua, NTT dan Maluku. Saya tidak bisa katakan nama kampusnya

 

(HI.id): Jika saya boleh memilih Negara tujuan saya mengajar, saya ingin suatu saat nanti saya ingin mengajar di Negara… Jelaskan alasannya?

 

(H.B): Saya bercita-cita (mengajar) ke Athena. Kotanya Anak Politik.

 

(HI.id): Publikasi di level internasional atau pemberdayaan masyarakat?

 

(H.B): Saya lebih memilih pemberdayaan masyarakat. Publikasi Internasional memang penting tapi bagi saya pemberdayaan masyarakat adalah hal utama seorang yang belajar ilmu sosial.

 

(HI.id): Aset paling penting dan paling berharga bagi seorang dosen adalah ….

 

(H.B): Aset yang paling penting (adalah) kecerdasan, kejujuran, dan kepekaan/kepedulian sosial bagi sesama tanpa membedakan Suku, Agama, Ras dan status sosial. Dosen harus mampu memaknai dan menjiwai Tridarma Perguruan Tinggi

 

(HI.id): Bagi saya, menjadi dosen itu ….

 

(H.B): Bagi saya menjadi dosen itu berat, peradaban intelektual ada di pundaknya, dan dari kedua tangan dan isi kepalanyalah regenerasi insan tercerahkan lahir. Saya masih terus belajar menjadi dosen yang baik, tentu saya butuh bimbingan dan arahan dari rekan-rekan dosen yang lain. Mohon arahan dan nasehatnya.

 

(HI.id): Jika saya tidak menjadi dosen, saya memilih menjadi ….

 

(H.B): Jika saya tidak menjadi dosen, saya ingin tetap menjadi aktivis literasi/perdamaian dan peneliti, tujuannya mengabdi pada masyarakat.

 

(HI.id): Terimakasih Pak Hendry Bakri atas kebersediaannya menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Semoga hasil wawancara ini sedikit banyaknya bisa memberikan gambaran bagi para pembaca tentang mengajar di Papua.

 

Pendidikan menjadi salah satu syarat untuk memiliki Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Memajukan pendidikan adalah sebuah keharusan dan menjadi tanggung jawab semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Terinspirasi dari hasil wawancara bersama Pak Hendry Bakri bahwasanya sebagai seorang dosen peradaban intelektual berada di pundaknya demi lahirnya generasi-generasi yang tercerahkan. Semoga artikel hubunganinternasional.id ini bisa sedikit memberikan kontribusi terhadap perkembangan HI di Papua dengan cara menginspirasi para pembaca melalui wawancara. Karena menyapa Papua saja tidak cukup maka mari mengajar ke Papua!

 

comments powered by Disqus