Parade Kemenangan di Rusia: Warisan Sejarah, Legitimasi Politik hingga Show of Force lewat Hard Power Diplomacy

  • Apr 27, 2022
  • /
  • Opini
  • /
  • Admin
  • 802

Setiap tahun tepatnya pada tanggal 9 Mei, Rusia merayakan salah satu hari besar yang disebut sebagai parade kemenangan. Parade kemenangan tersebut diadakan dalam rangka mengenang hari kemenangan Uni Soviet atas Jerman dalam perang dunia kedua pada tahun 1945. Parade kemenangan ini diisi dengan cara yang unik berupa pawai alutsista dan personel militer negara tersebut. Keberadaan pawai militer yang diadakan di beberapa tempat di rusia seperti Vladivostok, Kremlin, dan kota-kota besar lainnya merupakan cara orang-orang Rusia untuk menghargai jasa para pahlawan yang pernah dan gugur dalam bertempur melawan agresi Jerman sekaligus menjadi semacam tradisi umum yang menggambarkan bahwa orang-orang Rusia memiliki jiwa patriotik yang tinggi.


Rusia mempertahankan tradisi parade militer yang telah ada sejak zaman Uni Soviet. Hal ini adalah bagian dari upaya Rusia untuk menyerukan eksistensinya dalam percaturan politik internasional lewat instrumen militer. Rusia merupakan salah satu warisan terbesar Uni Soviet dan hingga hari ini memegang status sebagai salah satu negara superpower yang dibuktikan dengan keanggotaannya sebagai dalam dewan keamanan PBB. Posisi tetap dalam dewan keamanan PBB dan hak veto yang menyertainya hanya diberikan kepada lima negara yang dianggap sebagai pemenang perang dunia kedua. Negara pemegang posisi tersebut selain Rusia yaitu Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan Tiongkok. Kelima negara tersebut juga diperbolehkan untuk memiliki senjata nuklir.

Image: Source


Secara kekuatan militer dan luas wilayah Rusia saat ini memang tidak sebesar Uni Soviet, namun alasan lain Rusia mempertahankan pawai militer dalam parade kemangan merupakan strategi politik domestik dan internasional. Ada semacam hubungan antara despotisme dengan nilai ekspansionis historis rusia. (Herpen, 2014). Konvoi alutsista dan pawai militer yang diselenggarakan ini menjadi alat bagi rezim politik yang berkuasa atas suatu negara untuk mengontrol kepatuhan warga negaranya. Kontrol itu dilakukan dengan cara menunjukkan kapabilitas aparat negara untuk melakukan penertiban dalam negeri yang dicerminkan oleh kekuatan militer yang solid apabila terjadi kekacauan domestik yang dapat merugikan banyak pihak. Rusia berusaha untuk menstabilkan kondisi domestik negerinya terutama pasca keruntuhan Uni Soviet yang telah meninggalkan banyak problematika bagi Rusia saat ini. Kondisi domestik yang stabil diyakini akan memberikan kemudahan dan fleksibillitas bagi negara dalam menjalankan politik luar negeri. Despotime inilah yang membentuk Rusia yang sekarang, dimana keadaan tersebut sudah terjadi sejak era kekaisaran Tsar.


Publikasi aktivisme militer ke dunia internasional juga menggambarkan sisi historis ekspansionis Rusia yang ditunjukkan kepada rakyatnya dapat menjadi alat legitimasi bagi kultur masyarakat Rusia sehingga mereka bangga dengan patriotisme yang dimiliki bangsanya (self surrogate for the serf population). Kaitannya dengan histori ekspansionisme Rusia, politik luar negeri yang combative dan reactive tetap dilakukan walaupun kondisi hubungan internasional antar negara yang relatif damai. Bagi Rusia, status negara adidaya merupakan aset penting demi kepentingan mempertahankan rezim politik yang berkuasa. Warisan teknologi dan persenjataan Uni Soviet menjadi salah satu modal yang dapat diandalkan bagi Rusia untuk dapat mencapai tujuannya. Dengan kekuatan dan teknologi militer yang memadai, sebuah negara dapat disegani negara tetangganya baik dalam suatu kawasan ataupun global melalui detterence effect sehingga membuat negara-negara lain akan berpikir dua kali untuk membuat masalah dengan Rusia.


Unjuk kekuatan militer juga menunujukkan sisi lain diplomasi internasional Rusia terkait dengan intensi Moskow untuk terlibat dalam visi mewujudkan ketertiban dunia. Tendensi keikutsertaan Rusia dalam visi tersebut didasarkan pada ambisi imperialisme yang tidak hilang sejak lama. Yang terjadi di Rusia berbeda dengan yang terjadi di Eropa Barat. Bagi Eropa Barat, imperialisme memiliki tujuan untuk mengembangkan struktur negara yang final dan akan berhenti seiring dengan terbentuknya cita-cita fisik negara yang utuh. Rusia menormalisasi ambisi imperial ala Tsar lewat nafsu ekspansionis, hal ini sudah menjadi common culture dalam bangsa Rusia. Dengan kata lain, ekspansionisme tidak dipandang sebagai upaya formulasi sebuah negara atau bangsa akan tetapi dipandang sebagai nilai yang utuh seiring dengan perkembangan bangsa Rusia terlepas dari bentuk negaranya seperti apa. Hal ini kemudian dinamakan oleh Colline Gray sebagai “Russian Way” (Gray, 1977).


Dari perspektif keamanan dan hubungan internasional, Rusia memang menggunakan cara hard power ini sebagai salah satu upaya untuk mengimbangi kekuatan militer negara-negara blok barat terutama NATO. Sudah sejak dulu, NATO menjadi musuh bebuyutan Uni Soviet dalam hal perlombaan senjata. Di era perang dingin, keunggulan jumlah dan kualitas persenjataan yang dimiliki oleh suatu negara menjadi tolok ukur utama untuk proses perimbangan kekuatan yang terjadi diantara negara-negara pemenang perang dunia kedua.

Image: Source


Pada akhirnya, parade militer yang dilakukan Rusia sejak era Uni Soviet ini bukanlah sekadar parade militer yang menjadi tontonan publik saja. Parade militer 9 Mei menjadi semacam alat serbaguna dua arah: kontrol pemerintah terhadap warganya dan juga menjadi salah satu bagian tombak diplomasi luar negeri Rusia sendiri. Di era Uni Soviet, parade militer ini juga berguna sebagai deterrence tool terhadap blok barat yang kala itu menjadi kompetitor utama Uni Soviet dan blok timurnya.


Teori MacKinder menyoroti Rusia yang terkesan militeristik dan selalu combative. Landasan historis ala Eurasian Heartland yang berarti bahwa bangsa yang menguasai Eropa adalah bangsa yang menguasai dunia. Pandangan semacam itu membuat Moskow menciptakan persepsi umum bahwa Bangsa Rusia adalah Pemimpin Dunia dan menentukan mengenai siapa common enemy yang sebenarnya. Ancaman terhadap integritas nasional selalu datang dari arah Barat. Berkat proses sejarah yang panjang sejak masa kekaisaran Rusia melawan Napoleon dari Perancis, Nazi Jerman menginvasi Soviet hingga ancaman NATO terhadap blok Timur. Persepsi ini kemudian dituangkan dalam slogan Sovereign Democracy pada Rusia gaya pemerintahan Vladimir Putin dalam konteks pasca perang dingin. Mereka berusaha memainkan peran sentral great power guna menghindari negaranya sendiri menjadi sasaran lemah atas pemainan geopolitik di kawasan Eropa. Kebutuhan akan pemerintahan domestik yang kuat dan independen adalah mutlak. (Halford J, 1996) Hal inilah yang membekas dan coba dipertahankan oleh Rusia demi melanggengkan despotisme serta sebagai nation tool agar rakyat didalamnya memiliki kesamaan pandangan dan tunduk pada rezim.

“I have no way to defend my borders but to extend them.”
Tsarina Catharine the Great

Daftar Pustaka
Gray, C. S. (1977). The Geopolitics of the Nuclear Era: Heartland, Rimlands and the Technological Revolution. National Strategy Information Center Inc, 30. Dipetik 08 18, 2020


Halford J, M. K. (1996). The Geographical Pivot of History. Washington DC: National Defense University Press.


Herpen, M. H. (2014). Putin's Wars: the Rise of Russia's New Imperialism. Plymouth, United Kingdom: Rowman & Littlefield Publishers. Dipetik August 3, 2020




Author: Arif Sulistiobudi, S.Sos (Pengamat Hubungan Internasional untuk isu Keamanan Tradisional)

Email: tioyo29@outlook.com

Editor: Tim HubunganInternasional.id


About The Author

Comments