Strategi 'Nabok Nyilih Tangan' Aliansi Barat dalam Konflik Ukraina

  • Feb 25, 2022
  • /
  • Opini
  • /
  • Admin
  • 1230

Ketergantungan energi negara-negara Eropa terhadap Russia menjadi pertimbangan penting akankah negara-negara eropa lewat The North Atlantic Treaty Organization (NATO) akan masuk jauh lebih dalam konflik Russia-Ukraina. Ketergantungan energi negara-negara eropa terhadap Russia sudah berlangsung selama beberapa dekade. Tercatat 40% pasokan energi Eropa berasal dari Russia sebuah angka ketergantungan yang cukup signifikan bagi Eropa. Jerman salah satu aktor penting di Uni Eropa serta NATO mempunyai ketergantungan energi dalam negerinya terhadap Russia yang mencapai angka 45%. Sampai tulisan ini dimuat Uni Eropa baru sebatas menyampaikan kecaman keras atas aksi Russia di Ukraina ditambah sanksi ekonomi terbatas terhadap Russsia yang diikuti juga oleh Amerika Serikat. Meskipun pada faktanya militer Russia sudah melakukan serangan militer ke Ukraina, belum terlihat pergerakan kekuatan militer dari NATO atau negara-negara Eropa lain bergerak menuju Ukraina. Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam pernyataan resminya Amerika Serikat akan mengirimkan pasukan apabila satu inci wilayah negara-negara Eropa yang bergabung dalam NATO terancam dan sudah menjadi kewajiban bagi Amerika Serikat untuk membantunya. Dari pernyataan tersebut kecil kemungkinan Amerika Serikat akan mengirim pasukan militernya ke Ukraina, karena Ukraina bukan bagian dari NATO.


Ketergantungan energi negara-negara eropa yang cukup signifikan menjadi kekuatan Russia untuk menekan negara-negara Eropa untuk tidak ikut campur urusan Russia dengan Ukraina. Pernyataan Vladimir Putin yang dikutip dari beberapa media sangat menjadikan posisi yang dilematis bagi Eropa bahkan Amerika Serikat. Berikut salah satu pernyataan Putin dengan nada tegas “Siapa pun yang mencoba mengganggu kami, dan terlebih lagi, untuk menciptakan ancaman bagi negara kami, bagi rakyat kami, harus tahu bahwa tanggapan Rusia akan segera dan akan membawa Anda ke konsekuensi yang belum pernah Anda alami dalam sejarah Anda


Ketergantungan pasokan energi Eropa terhadap Russia sudah berlangsung sejak tahun 1990-an seiring dengan ditandatangani kerjasma energi keduanya dalam perjanjian kerjasma kemitraan Russia Uni Eropa tahun 1997. Faktor kekayaan alam berupa gas dan batubara sebuah anugrah bagi Russia dan dibtuhkan oleh negara-negara eropa. Dikutip serta dirangkum dari salah satu sumber statisca.com kebutuhan pasokan energi Eropa tahun 2018 terhadap Russia mencapai 40%.GazProm sebagai perusahaan gas milik negara Russia telah memasok 200,8 Miliar liter gas dengan tujuan sebagian besar ke negara eropa barat.pada saat ini kedua belah pihak saling membutuhkan. Rusia membutuhkan Uni Eropa, dan Uni Eropa membutuhkan Rusia. Ekspor hidrokarbon Rusia menghasilkan sejumlah besar pendapatan bagi negara, terhitung lebih dari 50% dari anggaran belanja Russia.

Image: Source


Sampai saat ini belum ada solusi nyata untuk diimplementasikan negara-negara Eropa dapat lepas dari ketergantungan pasokan energi dari Russia. Kecil kemungkinan NATO bahkan Amerika Serikat akan mengirim kekuatan militernya ke wilayah Ukraina. Pertimbangan lainnya adalah respon Tiongkok yang meminta negara-negara Eropa untuk tidak mengartikan respon militer Russia sebagai “Invasi Militer” mengingat latar belakang sejarah yang rumit dalam konflik di Ukraina. Sikap Tiongkok dalam mersepon hal tersebut bisa ditafsirkan bahwa posisi Tiongkok cenderung mendukung langkah Russia. Alasan lain konflik ini tidak akan semakin meluas adalah komitmen Uni Eropa yang lahir paska perang dunia kedua dengan tujuan menjadikan Eropa sebagai wilayah yang berkemajuan dalam pembangunan dengan menjaga stabilitas keamanan serta pelajaran sejarah masa lalu terjadinya Perang Dunia I dan II dikawasan ini akan turut membantu dan menjadi pertimbangan kemungkinan terjadinya perang terbuka akibat konflik Russia-Ukraina.


Bagi penulis sesungguhnya posisi Ukraina menjadi pihak yang paling tidak diuntungkan. Dalam peribahasa jawa ada isitilah “Nabok Nyilih Tangan” (memukul dengan menggunakan tangan orang lain) inilah strategi dari Aliansi Eropa dan Amerika Serikat terhadap Ukraina. Ukraina digunakan oleh mereka untuk beberapa hal. Pertama Mengukur bahkan menghalau kekuatan militer Russia.perlu dicatat selama kurun waktu tahun akhir tahun 2020 citra satelit maxar dari Amerika Serikat mendaptkan gambar pencitraan bahwa penempatan personel militer dan Military Equipment di perbatasan Russia khususnya berupa peluru kendali semakin masif dan ini dianggap sebagai bentuk ancaman bagi Aliansi barat sehingga diperlukan upaya untuk membuktikan (testing water) dan menghalaunya. Ukraina menjadi pilihan yang tepat karena rezim yang berkuasa saat ini kontra-dengan Russia serta Ukraina bukan anggota NATO sehingga secara hitung-hitungan cost & benefit serta resiko masih kecil kerugian yang diterima aliansi barat dan akan lebih mudah diselesaikan apabila terjadi perang terbuka. Tentunya NATO tidak akan mengorbankan negara anggotanya seperti Polandia dan Lithuania yang juga tidak terlalu jauh dengan wilayah perbatasan Russia. Kedua, Dengan adanya konflik di Ukraina, berlanjut sanksi ekonomi yang berat bagi Russia dengan harapan Russia melunak diharapkan menjadi alat diplomasi untuk Eropa khususnya Jerman mendapatkan pasokan energi yang lebih dengan harga yang tidak terlalu tinggi serta memuluskan proyek Nord Stream proyek Rusia dan Jerman. pipa senilai US$ 11 miliar untuk membawa gas lebih banyak ke Eropa melalui Baltik bagi Jerman Russia harus lebih banyak berbagi.

Image: Source


Bagi Amerika Serikat tidak kepentingannya yang terganggu dalam konflik di ukraina ini. Respon Amerika Serikat dengan mengecam russia dan pemberian sanksi ekonomi hanya sebagai sebuah bentuk komitmen dan solidaritas amerika serikat sebagai pendukung aliansi keamanan di Eropa yang akan dirugikan bila konflik ini berkepanjangan. Justru di sisi lain konflik ini bisa menjadikan Amerika Serikat mendapatkan keuntungan bila masuk kedalamnya yaitu mengambil bagian Rusia dari pasar energi Eropa, dan meningkatkan permintaan senjata AS di kawasan ini. Artinya amerika serikat memang harus terlibat dalam konflik ini dengan tujuan untuk mendaptkan keuntungan ekonomi dan akan menghindari terjadinya perang terbuka yang meluas. Sedangkan di pihak Russia sesungguhnya sederhana, upaya Ukriana untuk bergabung ke NATO harus dihadang karena akan mengancam kepentingan serta eksistensi Russia. Terlebih wilayah Donbask Ukraina yang sekarang di serang militer Russia tercatat salah satu penghasil batu bara dan gas yang cukup besar. Bila Ukraina masuk ke NATO maka ekspor gas dan batu bara Russia ke Eropa akan jauh semakin berkurang dan tentunya merugikan perekonomian Russia. Russia harus mengntrol Ukraina untuk mengamankan kepentingan ekonominya.


Dari analsis singkat di atas, kecil kemungkian terjadi perang terbuka di wilayah eropa. Russia dan negara-negara Eropa esensinya saling membutuhkan. Sebagai aktor yang rasional tentu akan berfikir panjang bila sampai terjadi perang terbuka yang akan merugikan semua pihak. Konflik Russia-Ukraina akan terlokalisir tidak sampai meluas ke wilayah lain bahkan ke Perang Dunia atau Perang Dingin. Proses Diplomasi kedua belah pihak akan berlangsung dan menjadi solusi untuk mengakhiri konflik ini. Dalam peristiwa ini, Ukraina menjadi pihak yang paling dirugikan. Konflik Russia-Ukraina bisa menjadi pemicu perang dunia hanya akan terjadi bila Vladimir Putin mewarisi DNA seorang Adolf Hitler.




Author: Adi Joko Purwanto,S.IP.,M.A (Staf.pengajar Jurusan Hubungan Internasional FISIP Unwahas)

Email: adijoko@unwahas.ac.id

Editor: Tim HubunganInternasional.id


About The Author

Comments