Wawancara: Melihat Studi Hubungan Internasional dari Kacamata Mohtar Mas'oed

  • Nov 28, 2021
  • /
  • Wawancara
  • /
  • Admin
  • 1616

HubunganInternasional.id (HI.id): Tolong ceritakan bagaimana pertama kali anda mengenal Hubungan Internasional

Prof. Dr. Mohtar Mas’oed (M.M): Kalau (yang dimaksud) itu studi Hubungan Internasional tentulah ya sesudah saya sekolah di sini. Saya sekolah tahun 1969. Jadi, kalau mengenal itu saya kira ya akhir tahun 1960-an karena istilahnya mahasiswa yang masuk ke Hubungan Internasional itu semester pertama tidak ada hubungan internasional. Tapi (kalau yang dimaksud) fenomena hubungan internasional, ya sudah lama. Ketertarikan saya dengan itu kan urusannya sederhana sebetulnya. Saya dari desa penghasil barang ekspor, kopi gitu. Jadi, kesadaran mengenai fenomena hubungan internasional itu mungkin jauh sebelum saya sekolah, jauh sebelum tahu ada studi mengenai hubungan internasional.

Saya sampai sekarang saja orang di Indonesia bisa merasakan apa yang terjadi di desa-desa itu sangat terkait dengan yang di sektor internasional. Seperti sumber penghasil tembakau, tapi sejak lama mereka tahu harga di desa itu sangat tergantung kepada yang terjadi di Bremen, Jerman. Sekarang apa lagi, kesadaran itu lebih mungkin untuk muncul sangat awal karena kita menjadi terikat betul, dulu kita terikat dengan semua bidang. Tapi jelas itu ekspor barang pertanian sangat menyadarkan kita bahwa yang kita kerjakan di manapun, di desa-desa itu terkait dengan apa yang terjadi di internasional. Dan jangan lupa, di desa-desa seperti desa saya, investor asing sudah lama ada. Perkebunan milik orang Turki, milik orang Belanda, Belanda yang pemerintah maupun swasta. Jadi, kalau dilihat dari sisi itu, maka sebetulnya fenomena internasional itu sudah disadari mempengaruhi kita. Jangan-jangan desa saya itu pun sebelum penjajahan Belanda tidak ada karena desa itu dimaksudkan untuk melayani perkebunan.

Kalau Anda melihat hubungan internasional dalam pengertian kontak antara orang yang tinggal di berbagai bagian geografis dunia itu, (sudah ada) sejak lama sebetulnya. Tapi dalam pengetahuan, tahu dalam artian bisa menjawab apa itu, berpengetahuan mengenai itu, dapat menjawab mengapa begitu. Saya tahu itu (HI), sejak sebelum sekolah di sini (UGM) tapi mengapa begitu (fenomena itu)? Saya tidak tahu, saya harus belajar hal itu. Itu bedanya orang yang sekadar tahu dan orang yang bisa menjelaskan. Itu saya kira tugas keilmuan HI adalah membantu menjawab pertanyaan. Jadi, di desa saya itu yang menghasilkan, misalnya kopi diekspor tapi mengapa desanya selalu miskin? Sedangkan yang mengekspor di Surabaya kaya raya? Itulah yang diteorikan oleh orang Amerika Latin mengenai dependensia. Nah, dengan cara yang seperti itu saya ingin orang melihat HI itu bukan sesuatu yang esoterik, (tetapi) sesuatu yang bisa kita ketahui. Jadi, itu yang saya lakukan selama ini mengembangkan studi HI yang relevan gitu.

Saya dididik untuk tahu semua kejadian yang penting dalam hubungan internasional di Eropa, di Timur Jauh, di Amerika Utara, begitu saya kira. Tapi, kalau saya belajar misalnya Eropa orang perang karena ini karena itu, negara saya kan tidak sering berperang? Wilayah ini tidak saling menyerang seperti Jerman dan Peracis. Jadi, lama-lama saya pikir “Wah ini tidak relevan.” Jadi saya belajar Amerika Latin. Relevansinya lebih jelas, saya belajar orang yang mengalami pengalaman yang sama. Petani kopi di Kolombia, di Brazil punya persoalan yang sama lalu mereka yang bersekolah mengenai ilmu sosial menjawab pertanyaan itu. Jawabannya dependensia. Dependensia itu tidak mungkin diteorikan oleh orang Eropa karena orang Eropa tidak mengalami. Orang Eropa bisa membuat teori imperialisme. Mengapa? Karena mereka yang mengalami, mereka yang melakukan lalu munculah (teori itu).

Saya menulis desertasi tahun 1981. Tidak mengenai HI sebetulnya, tapi terkaitlah. Saya mau melihat political economy di Indonesia dalam prakteknya. Lalu kasusnya tentu saja Orde Baru. Jadi, urusan saya dengan studi HI harus relevan, itu membuat saya harus mencari fenomena yang mirip dengan fenomena yang saya alami di sini.

Jadi ya, waktu itu tidak mudah karena studi HI di UGM ini disiapkan secara sistematik kan baru tahun 1957. Ini terbit sebagai sekolah untuk pegawai. Pegawai yang harus menjelaskan kemerdekaan kepada orang di luar negeri karena itu lalu diperlukan banyak ahli yang memberitakan itu, namanya publisistik. Kita perlu orang yang bisa segera menjadi camat, jadi macam-macam, bupati gitu. Nah, untuk mereka yang harus membantu perundingan kita di luar negeri, disiapkan hubungan internasional.

Jadi, HI dulu itu adalah ilmu untuk mendukung diplomasi Indonesia di luar negeri gitu. Tahun 1957 ada tim dari John Hopkins, namanya School of Advance International Studies (SAIS) yang ditempatkan di UGM. Donald Weatherbee yang membawa kurikulum SAIS ke sini. Sehingga, studi HI menjadi seperti ini sangat Amerika dan itu yang ditiru oleh berbagai HI di mana-mana karena mulainya di sini. Lalu kita belajar Morgenthau, lalu kita menjadi sangat realis, itu semua datang dari tim (yang) dibawa John Hopkins ke sini.

Jadi kalau Anda mau hubungan internasional, ingin tahu hubungan internasional, harus tahu jelas hukum internasional. Harus tahu sejarah internasional, harusnya tahu klasik. Pokoknya begitu kita diajak untuk berbicara HI itu isinya itu. Isinya perang, isinya membangun perdamaian, gitu-gitu. Tapi tidak ada urusan orang kecil di sana. Nah, itulah yang saya bawa ke sini tahun 1970-an itu. Ya, di sini beruntung karena ada Rockefeller datang ke sini karena orang-orangnya membawa studi pembangunan. Lalu, di sana pintu masuknya, jadi HI di mana kalau kita belajar pembangunan? Lalu masuk ke political economy, itu yang saya kerjakan, saya yang pertama mengajar itu di UGM. Kemudian menjadi international political economy. Dulu Pak Yahya (Prof. Dr. Yahya Muhaimin) mulai dengan masalah negara berkembang. Jadi, kami masuk ke studi (HI) yang relevan itu melalui studi pembangunan. Lalu saya mengembangkan studi ekonomi politik pembangunan, itu Pak Yahya juga di sana walaupun Pak Yahya lebih kultural, (kemudian berkembang menjadi) ekonomi politik internasional. Nah, sesudah itu berkembang (kajian) yang lain.

Foto: Prof. Mohtar Mas'oed

Jadi, saya ingin menggambarkan bahwa kecenderungan orang mengembangkan ilmu sangat terkait dengan pengalaman pribadinya. Kalau tidak, ghirohnya kurang. Kalau Anda perhatikan hampir semua orang begitu. Johan Galtung karena dia capek dengan konflik-konflik di lingkungannya, lalu dia mengembangkan itu (pemikirannya). Morgenthau capek dengan orang yang menggampangkan soal, “Oh manusia itu gampang, asal begini begitu” Nah, dia capek dengan itu, dia mengembangkan realisme itu. Lalu saya pikir-pikir mengapa saya belajar HI? Jangan-jangan karena saya ingin tahu kenapa saya yang menanam orang lain menentukan harga. Lalu kita yang menanam, orang lain yang kaya. Dari mana itu? Nah, yang mengajari itu Karl Marx tapi itu pikiran orang yang dari Eropa. Nah, lalu saya dapat bantuan pikiran orang yang dari seperti lingkungan saya. Jadi (orang-orang) itulah (dari) Brazil, (dan) orang-orang (dari) Kolombia.

Maksud saya orang-orang yang berteori dari negara koloni dan orang berteori dari negara koloni (seperti Brazil dan Kolombia) kemudian ditambah dengan pengalaman orang Iran. Orang Iran tentulah itu ada unsur ideologinya ya, dia ingin memperjuangkan Iran. Jadi, kita ini tidak miskin. Kita ini dimiskinkan. Kita ini muztatz afin, yang disengsarakan. Kita itu sebetulnya bisa tidak sengsara, kalau saja strukturnya tidak mengungkung kita dengan cara itu. Dan itu Ali Syariati, orang-orang Iran waktu itu sangar. Sekarang anda tidak pernah mendengar itu, siapa yang peduli dengan itu?

Ya jadi, kembali ke cerita saya masuk ke situ (HI) dan mengapa saya masuk ke situ. Jadi, orang berkembang, tapi poinnya adalah ketika saya belajar HI dan kemudian menjadi dewasa di sini, poinnya adalah mengembangkan studi hubungan internasional yang relevan dengan persoalan yang ada di sekitar kita, gitu. Itu poinnya saya kira.

(HI.id): Siapa saja tokoh-tokoh Hubungan Internasional yang menginspirasi anda?

(M.M): Saya kira bukan menginspirasi, karena di Indonesia dalam Bahasa Indonesia inspirasi itu kecenderungannya positif. Nah, ada yang membicarakan sesuatu yang menarik lalu membuat orang bergiat. Kalau Anda bertanya itu maka mungkin ya awal-awal sekali yang tentu sangat menarik adalah pembahasan mengenai bagaimana orang berpengaruh. Seperti Morgenthau berbicara itu, kemudian ada yang namanya Susan Strange. Dua orang ini membicarakan tentang bagaimana orang berpengaruh, yang satu berpengaruh itu memerlukan sarana yang berdaya paksa fisik. Jadi Morgenthau bercerita mengenai perlunya kekuatan militer. Nah itu kemudian dikenal sebagai direct power. Susan Strange menunjukkan bahwa yang disebut pengaruh itu bisa saja bukan karena todongan pistol. Pengaruh itu bisa datang kalau harusnya ada makanan hari ini, tapi orang menahan makanan itu. Jadi, kita tidak dipaksa dia untuk berbuat sesuatu, tapi dia hanya membuat makan kita yang biasanya mudah kita peroleh jadi sulit diperoleh. Nah itu disebut dengan structural power. Nah pembicaraan mengenai itu penting karena hanya orang ketika awal sekali belajar mengenai hubungan antar manusia itu, itu biasanya bicara mengenai daya paksa itu, militernya kuat ndak? Jadi, orang lupa bahwa sejak lama banyak orang juga bisa memaksa orang lain berbuat tapi tanpa menodongkan senjata, dengan with holding, dengan sesuatu yang sepatutnya dia bisa peroleh (tetapi) tidak bisa diperoleh. Mau berdagang, tidak ada kapital. Mau apa tidak ada informasi. Jadi banyak itu halangan hal itulah yang dinamakan structural power.

Nah dua orang ini sangat penting membentuk pikiran saya, Morgenthau mengenai direct power, Susan Strange mengenai structural power. Kemudian ada orang namanya Johan Galtung yang bicara struktur dibahas sebagai bagian dari penindasan, atau kekerasan gitu. Sehingga kemudian kekerasan itu bukan hanya dihasilkan, misalnya akibat kekerasan yang paling fatal adalah orang mati. Orang mati bisa (karena) ditembak, tapi orang mati juga karena dibiarkan kelaparan bisa juga. Nah, misalnya apa bahasa diplomasinya statecraft, bahasa sederhananya sanksi ekonomi. Sanksi ekonomi itu kan saya tidak menembak dia biar mati, tapi saya menyulitkan dia cari makan. Nah itu disebut struktural. Nah kembali ke pembicaraan yang tadi struktural itu, saya kira ini konsep yang menarik untuk dilihat. Jadi, orang bilang saya tidak bisa menyiksa dia. Mana? Bisa lihat, tanya dia apakah saya pernah memukul? Anda tidak menempeleng dia tapi Anda membuat dia tidak bisa dapat pekerjaan. Tapi ada juga yang kultural gitu.

Jadi ada direct violence, kekerasan dengan menembak ada stuctural violence ada cultural violence. Nah, kalau Anda perhatikan saya akan memulai dengan satu kata pengaruh tadi, karena dalam ilmu sosial pengaruh itu dalam politik pengaruh itu penting. Pengaruh itu menurut Morgenthau menurut Susan Strange begitu, menurut Johan Galtung begitu. Nanti Saudara akan lihat dalam pemikiran yang ekonomi politik ya sama saja. Tapi, kalau anda bertanya siapa yang memberi inspirasi gitu, saya cara melihat bukan orang, kalau orang saya akan kehabisan nanti amunisi. Kalau orang itu pikirannya yang itu saya tidak cocok bagaimana, jadi saya pilih untuk urusan pengaruh. Saya belajar dari Morgenthau, dari orang yang namanya Susan Strange, dari orang yang namanya Johan Galtung.

Nah kalau Anda tanya yang bukan dari Eropa ya gitu. Nah, Anda kan punya folklore, punya mitos yang Anda dengar sejak kecil ya. Anda pasti mendengar itu walaupun itu asalnya kitab suci, tapi datangnya pada kita kan cerita. Misalnya cerita dalam Bhagavad-Gita, mengenai satria yang menolak berperang. Dalam cerita Bhagavad-Gita ada konsep namanya dharma, dan di Indonesia itu dipakai. Jadi tentara itu dharma, putra, kostrad ya. Jadi, kalau komandan menyuruh membunuh walaupun itu tidak suka. Nah, hal-hal seperti itu datang dari folklore ketika saya kecil dan memaksa saya sampai hari ini untuk selalu mempertimbangkan sesuatu dari berbagai segi dan itu yang kurang pada banyak orang di sekitar saya, karena seringkali orang berpikir ngapain berteori-berteori gitu? Kan banyak wartawan yang berhasil itu adalah dia dikirim ke mana membuat laporan, rinci sekali, lalu diterbitkan, dan bagus, orang senang kan? Untuk apa teori? Itu yang saya maksud dengan tahu tapi apakah Anda bisa menjawab pertanyaan mengapa begitu? Nah pekerjaan menjawab pertanyaan mengapa itu pekerjaan teoritik dan itu tidak perlu Anda belajar yang rumit-rumit, belajar di folklore Anda sendiri yang Anda tahu sejak kecil itu. Ada banyak dilema. Mengapa harus memerangi?

Jadi, maksud saya belajar HI itu tidak sekadar ingin tahu tapi juga harus bisa menjawab mengapa begitu, malah kalau bisa menjawab pertanyaan mengapa harus begitu? Apa memang harus begitu? Itu pertanyaan normatif. Jadi, dorongan saya kepada mereka yang belajar HI itu tahu jelas itu penting. Tahu dengan detail jauh lebih penting, rinci karena pepatah Inggris yang dipakai itu setan itu ada di rincian. Kalau Anda hanya yang global-global saja tidak akan ketemu kalau mencari setan. The devil is in the detail. Setan itu di rincian, menemukan persoalan rinci itu.

Nah nanti dalam perkembangan yang melompat jauh sekali, belajar kepada orang seperti Jurgen Habermas. Dia bilang politik itu di rincian, kalau sekadar seumpama politik itu tubuh manusia, ada aorta ya, ada apa gitu. Tapi ada yang jalur-jalur kecil yang disini ini yang bukan aorta itu. Kalau ini dipotongpun kita tetap bisa hidup, jadi ini kata dia politik itu di sini, di capillaries (pembuluh kapiler). Jadi mempelajari politik Indonesia tidak harus dengan pemilunya bagaimana, parlemennya bagaimana. Jangan-jangan yang harus saudara pelajari adalah pengajian subuh di kampus mana kan gitu, arisan ibu-ibu. Itu yang dipelajari yang gitu-gitu menurut orang yang belajar mengenai teori secara post-positivist begitu.

Jadi, saya ingin itu yang pertama orang tahu dan rinci. Anda tidak bisa hanya yang global-global saja. Kedua, harus bisa menjawab mengapa yang saudara ketahui itu begitu dan bertanya juga menjawab pertanyaan kepada diri sendiri mengapa Anda melihatnya begitu. Nah itu disebut nanti saudara akan lihat itu, epistimologi, ontologi. Jadi, mengapa saudara mempelajari itu konflik, anda ikut research. Mengapa belajar studi perdamaian lalu ada yang perdamaian positif dan perdamaian negatif. Perdamaian negatif, damai artinya tidak ada perang tapi masih ada bibit-bibit yang bisa menimbulkan perang. Perdamaian yang positif, tidak ada perang dan tidak ada bibit-bibit terjadinya perang.

Ketertarikan saya tidak pada orang, ketertarikan saya pada gagasan yang muncul dan itulah yang saya coba apakah ada gagasan yang mirip ini atau bertentangan dengan ini, begitu. Dan dunia keilmuan membuat kita harus ya tidak hitam putih gitu. Ungkapan bahasa Inggrisnya, give them the benefit of the doubt. Harus diperbolehkan keraguan itu ya. Ini bukan kitab suci, kalau kitab suci ya jelaslah tidak ada keraguan atas-nya, jelas! Tapi ini kan bukan kitab suci selalu harus bisa diragukan. Jangan-jangan ada yang belum diperhatikan, coba saya lihat ini begitu. Nah dalam pengertian itu, sekali lagi saya membaca konsep pengaruh dari Morgenthau tapi, jangan-jangan ada orang lain. Nah ketemu orang lain, namanya Susan Strange. Jadi, saya tertarik kepada ide datang dari orang itu, tapi orang itu punya ide juga yang mungkin tidak cocok. Jadi, dalam pengertian itulah saya ingin membayangkan tentulah ada orang-orang yang saya tiru saya cara berpikirnya.

Kalau pertanyaannya berbeda misalnya begini, Bagaimana Anda membayangkan ASEAN? Nah itu juga banyak cara, yang satu mengatakan tidak mungkin ada ASEAN yang seperti diinginkan itu, kalau tidak ada interaksi. Ya kita sudah, kita kan membangun identitas ASEAN itu berdasar pertanian karena itu lambangnya kan padi. Jadi identitas kita ini dari situ, kehidupan pertanian, pangan, beras yang ditanam di tanah sawah. Itu centrum sekali. Itu semua begitu, Filipina begitu, Thailand begitu, Laos begitu, itu mengikat kita. Jadi, kerja sama antarnegara itu hanya mungkin kalau bisa dikembangkan interaksi sehingga muncul identitas yang sama, itu salah satu cara mengembangkan itu.

Tapi yang lain bilang ide itukan tidak bisa melayang-layang, ide itu harus ada rumahnya. Rumahnya adalah organisasi. Lalu semuanya dikumpulkan dalam satu unit di ASEAN itu. Nah orang yang berpikir seperti ini, yang basis kultural interaksi antar orang, sehingga muncul community namanya Karl Deutsch. Hal yang kedua yang mengatakan organisasi kerja sama regional urusannya adalah manajemen kerja Ernst Haas. Jadi, kalau Anda tanya saya siapa ya memberi inspirasi gitu, untuk urusan itu kerjasama regional ya dua orang itu, namanya Karl Deutsch yang kedua Ernst Hass.

Saya memulai kuliah yang baru itu banyak antara lain gender dan politik. Hal itu tuntunan saya yang orang yang mula-mula mengingatkan saya bahwa dalam hubungan internasional ada urusan gender itu orang itu namanya Enloe, Chintya Enloe, menulis buku judulnya menarik, judulnya adalah “Bananas, Beaches, and Bases”. Itu adalah cara baru melihat persoalan yang kita selama ini abaikan. Yang berhubungan internasional kan orang, coba perhatikan mereka laki-laki atau perempuan? Nah lalu muncul persoalan ini seks atau gender? Jadi, kalau urusan yang di situ maka inspirasinya datang dari Chintya Enloe atau yang lain-lainnya. Jadi, jawabannya tidak langsung seperti yang Anda harapkan ya, tapi itulah cara saya melihat persoalan.

(HI.id): Bagaimana pendapat anda tentang situasi terkini Ekonomi Politik Internasional?

(M.M): Ya amburadul, sekarang ini. Kalau Anda ingin jawaban yang lebih sistematik gitu ya. Ada buku Ian Bremmer. Judul buku itu “Every Nation for Itself”. Buku itu sudah lima tahun yang lalu saya kira. Buku itu kira-kira bercerita semua sekarang cenderung memikirkan diri sendiri. Dia mengatakan begini, sekarang sulit sekali meminta orang untuk membahas persoalan bersama, secara bersama. Dulu Amerika berkepentingan memimpin, urusan apa ini? Ini banyak orang mau bangun rumah tapi tidak punya uang. Ya, ya mari-mari kita buat. Lalu munculah dana pinjaman. Pada IMF (International Monetary Fund), Bank Dunia (World Bank) terserah saja. Ini kenapa ini? Ini lho dia jualan, dia menganggu-ganggu terus. Budgetnya tinggi gitu. Lalu mari kita kumpul, ada GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) lalu WTO (World Trade Organization) gitu. Ada apa lagi, ini kok perempuan-perempuan kok selalu diabaikan atau disiksa, mari ramai-ramai kumpul. Akhirnya muncul kesepakatan mengenai CEDAW (Committee on the Elimination of Discrimination Against Women). Jadi, itu sampai 10 tahun yang lalu kita masih bisa berharap. Kalau ada perkara di dunia ini, maka yang merasa lebih mampu segera berkumpul lalu menyelesaikannya secara bersama. Ini sudah pertemuan G-7 yang ke berapa ini? Macet!

Jadi, ini yang dulu oleh Mansur Olsen disebut dengan collective behaviour. Sulit sekali sekarang ini mengampukan orang. Kemarin yang di Perancis itu tujuh orang itu berkumpul juga kesepakatannya itu tidak utuh, hanya satu saja karena itu terpaksa secara moral harus dilakukan yaitu membantu pemadaman api di Brazil. Itupun orang Brazil menolak karena biasanya agendanya macam-macam, titipannya itu.

Image: Source

Jadi, kalau Anda bertanya saya sepakat dengan mereka. Poin saya adalah jangan berharap akan ada penyelesaian yang bisa diandalkan dari kelompok-kelompok negara itu. Selama Amerika masih memandang dirinya begitu, Inggris itupun ikut-ikut gitu, hanya (Emmanual) Macron (Presiden Prancis) dan orang Kanada (Justin Trudeau, Perdana Menteri Kanada) yang berusaha, tapi kan mereka kecil. Sulit sekali menjamin public goods, keamanan istilahnya, kan tidak bisa diandalkan gitu. Jadi, you have to have your own public goods solved. Jadi, tidak mengandalkan yang lain. Jadi, dalam pengertian inilah saya tadi bilang amburadul.

Kalau misalnya ini RT kita ini, ASEAN ini, ingin itu efektif maka harus ada yang berinisiatif. Berinisiatif itu artinya adalah dompetnya juga harus cukup karena setiap orang yang berinisiatif dalam kegiatan apa saja, tingkat RT, RW, maupun negara, maupun dunia, itu yang berinisiatif biasanya yang menjamin awal dari kegiatan itu, jadi pembiayaan. Sing usul, mikul, gitu. Nah, kalau Indonesia ingin menyelesaikan Rohingnya itu, ya harus berinisiatif gitu. Tapi kan, kita sedang kesulitan di dalam negeri kebanyakan. Jadi, kalau Anda ingin jawaban yang gampang itu, ya itu tadi amburadul.

Kalau Anda ikut cara berpikir institusionalisme liberal, Dia mengandalkan seperti Ernst Haas tadi, sesuatu yang dilakukan mesti dilembagakan dan itu nanti diurus supaya makin berkembang. Diurus dengan aturan yang jelas, itu yang namanya rezim. Dan membuat rezim itu tergantung kepada aktor yang berinisiatif dan karena berinisiatif maka dia harus siap dengan itu. Itulah mengapa Amerika keberatan. Saya mau berinisiatif tapi biayanya semua nanggung. Ya yang lain kan itu siapa. Dulu yang dipaksa-paksa kan Jepang. Sekarang Jepang kesulitan hidup, sudah 14 tahun resesi. Jadi, kalau poinnya itu maka jawabannya terhadap pertanyaan ekonomi politik internasional itu ya no leadership. Tidak ada yang berinisiatif karena banyak penyebabnya.

(HI.id): Bagaimana anda melihat posisi Indonesia dalam Politik Internasional saat ini?

(M.M): Indonesia inikan seringkali ketika membahas hal-hal yang seperti ini mulainya normatif, sangat normatif. Membantu penciptaan perdamaian di dunia gitu, mbok sudah yang bisa kita lakukan. Tentulah kita menjamin, membantu perdamaian dunia. Tapi kan itu cerita awalnya, lalu apa konkritnya kan gitu? Hampir semua tidak. Banyak pelaku, pemain politik Indonesia karena tidak confident jadi semuanya seringkali semuanya dikoma dulu gitu kan.

Kalau menurut Pancasila, kita kan harus mengunggulkan kemanusiaan. Baru sesudah itu Indonesia-nya kan. Tuhan, Manusia, Indonesia, lalu baru cara mengurus demokrasi, yang hendak dicapai yang lima itu. Rohingnya misalnya, di dunia sudah ada pengadilan khusus untuk itu International Criminal Court (ICC) kan begitu. Indonesia memang paling sulit menghadapi Myanmar karena yang mengajari mengurus negara seperti itu dulu kita. Mereka sekolah kepada kita, jenderal-jenderal yang sekarang ini dulu beberapa itu lulusan SESKO AD. Dulu diajari ngurus negara itu begini. Nah, sekarang mereka meniru kita, kita sudah berubah. Sana bilang, “Ih enak aja” kan gitu? Jadi, saya kira begitu.

Jadi, saya tidak ingin mengatakan Indonesia ini malas atau tidak berinisiatif tapi constrainnya banyak sekali. Tentulah diplomasi itu (membutuhkan) empan papan dengan perhitungan yang teliti sebelum bertindak. Itulah kesulitan kita. Jadi, pertanyaan bagaimana posisi Indonesia itu semua orang tidak bisa menjawab gitu. Tapi, saya tidak tahu cara menjawab lebih baik karena foreign policy begins at home. Yang kita lakukan di luar rumah itu tergantung rumah kita, keperluan di rumah ini apa gitu. Jadi, saya kira kalau Anda bisa menjawab sendiri itu dengan melihat apakah ada pilihan bagi Indonesia untuk aktif. Ada pilihan maksudnya kalau milih ini sumber dayanya satu, dua, tiga, empat, lima. Kalau milih itu sumber dayanya satu dua tiga, itu.

(HI.id): Bagaimana saran anda untuk arah Ekonomi Politik Indonesia?

(M.M): Nah, kita harus merumuskan tindakan yang memang kita bisa jalankan. Itu begini, kalau Anda belajar dari orang Realis, kalau kekuataan satu, dua, dan tiga, tidak cukup besar, harus ada kekuatan keempat yang bisa membesarkan itu namanya diplomasi. Itu kan tugasnya diplomasi kan membuat yang lain menjadi meningkat. Nah, jadi atur-aturlah supaya kita bisa mengembangkan diplomasi yang efektif.

Saya melihat kemarin diplomat di Dewan Keamanan memarahi wakil-wakil dari Pasifik Selatan. Saya ingin menunjukkan saja bahwa ini ada diplomat yang bagus melawan. Jadi, mutu wakil kita yang merepresentasi kita itu adalah alat untuk meningkatkan (posisi kita). Paling tidak saya melihat Mbak ini yang mewakili kita itu lumayan. Ya, kita punyalah sebetulnya kan bibit-bibit untuk itu.

Kalau Saudara lihat dalam pergaulan sehari-hari, kalau Anda berbisnis. Anda dari sisi yang lemah, tapi Anda punya ide yang lebih bagus, kan orang memperhatikan. Dalam persekutuan bisnis, saya kira yang perbaiki itu. Kalau meningkatkan pertahanan kan ya sulit. Uangnya kurang. Karena tadi itu, foreign policy begins at home. Kalau rumahnya blenthang-blenthang ya begitu. Apalagi ini habis pemilu itu, kok perasaan saya kok belum selesai ya ini.

(HI.id): Apa saran yang ingin anda sampaikan kepada seluruh akademisi HI lainnya di Indonesia?

(M.M): Kalau kepada orang yang sedang belajar (pertama) yaitu curiousity, rasa ingin tahu. Harus ada rasa ingin tahu. Yang kedua yang saya anjurkan itu biasanya skeptisisme, jangan menerima saja argumen. Memang ada skeptisisme yang berlebihan. Apa-apa tidak percaya, bukan begitu. Saya ingin orang skeptis tapi sehat. Artinya tidak (menerima argumen) begitu saja. Nah, yang lain saya kira saya tidak bicara kepada orang yang sudah ahli ya. Saya bicara kepada yang ingin belajar itu adalah itu curiousity dan selalu mempertanyakan sesuatu. Socrates mengajari kita untuk bertanya. Socrates tidak memberi tahu kita apa itu pengetahuan. Tidak pernah. Tapi dia menanyai kita.

Untuk yang sudah tahu HI itu, menulislah. Sesederhana apapun menulis karena ya bagaimana mengungkapkan apa itu sesuatu yang bisa mendorong orang lain itu kalau tidak dengan cara menulis. Kalau sekarang kan menulis itu gampang saja, orang membuat blog lalu menulis kan begitu. Tapi ya maksud saya menulis itu kan memproduksi sesuatu ya.

Kalau pelajaran masa kecil yang sering saya sampaikan kepada mahasiswa itu, “Jadilah lebah.” Kalau semut itu kan pekerjaanya mengumpulkan, mengumpulkan, mengumpulkan saja gitu, ya. Laba-laba itu membuat rumah tapi dari yang dia punyai, ya di dalam dirinya, gitu. Lebah itu bisa mengambil serbuk sana lalu dicerna di dalam tubuhnya, lalu keluarnya madu. Jadi, ya tidak apa-apa mengambil sana, mengambil sana, tapi tentu saja harus memberi tahu orang itu bahwa itu karya orang lain. Lalu malah produksinya gitu. Saya bercerita di kelas kepada mahasiswa dongeng-dongeng seperti itu, dongeng mengenai lebah dan sebetulnya itu bukan dongeng, semua orang punya cerita.

(HI.id): Apakah anda berkenan untuk dihubungi jika ada yang berniat berkonsultasi terkait kepakaran anda?

(M.M): mohtar@ugm.ac.id

*Transkrip wawancara antara Hubunganinternasional.id dengan Prof. Mohtar Mas'oed. Wawancara ini dilakukan pada 30 Agustus 2019 di Universitas Gadjah Mada. Beberapa editing pada transkrip di atas dilakukan tanpa mengurangi/mengubah makna

Editor: Tim HubunganInternasional.id


About The Author

Comments