Dec 11, 2018
  • Hubungan Internasional
  • 081226993704
  • -

Wawancara Buku Strategi China Merebut Status Superpower

  • Jendela Buku HI
  • Sep 28, 2018
  • 213

Superpower! Banyak Negara tentu mendambakan status ini. Perkara itu berhasil di jawab dengan baik oleh Amerika Serikat yang telah berhasil menjadi Negara Superpower dan menancapkan pengaruhnya di level internasional. Dominasinya telah berjalan selama puluhan tahun pasca Perang Dunia II. Kekuasaan Amerika Serikat pun kemudian menjadi semakin tak terbendung pasca runtuhnya Uni Soviet yang kemudian membuat Amerika Serikat secara otomatis menjadi Negara Superpower di level internasional. Akan tetapi bukan berarti pertarungan antar Negara untuk merebut status Superpower kemudian terhenti. Layaknya pertarungan di ring tinju, Amerika Serikat pun akhirnya menemukan penantang terbarunya. China muncul ke permukaan dan dianggap sebagai kandidat Superpower baru menggantikan Amerika Serikat.


China saat ini menjadi salah satu negara yang paling banyak diperbincangkan di dunia internasional. Salah satu yang paling mencolok tentunya peningkatan kekuatan ekonominya yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tidak hanya di situ, perusahaan China pun sangat agresif untuk melakukan ekspansi bisnisnya ke berbagai penjuru dunia. Hal ini (ekonomi) merupakan salah satu indikator untuk melihat bagaimana kekuatan China meningkat dengan luar biasa. China berhasil mengganti tampilan mereka dari Negara berkembang yang butuh bantuan (hutang) menjadi Negara dengan kekuatan ekonomi luar baisa yang memberikan bantuan (hutang). China tentunya tidak ingin menyianyiakan kesempatan emas ini untuk membangun negaranya agar lebih kuat dan modern. Untuk mewujudkan hal tersebut, China melakukan serangkaian strategi baik di dalam maupun di luar negeri untuk memperkuat dirinya. Tentunya hal ini membutuhkan sebuah strategi jangka panjang yang terarah dengan baik.


Pembahasan tentang sepak terjang China menjadi Negara Superpower ini dituangkan dalam sebuah buku karangan Prof. Dr. Bambang Cipto. M.A dengan judul “Strategi China Merebut Status Superpower” HubunganInternal.id mencoba menghubungi Prof. Bambang yang juga merupakan salah satu Guru Besar yang mengajar di Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk bertanya beberapa hal tentang buku yang beliau tulis. Berikut adalah hasil wawancaranya:

 

HubunganInternasional.id (hi.id): Tolong jelaskan, apa yang melatarbelakangi Anda menulis buku ini?

 

Prof. Dr. Bambang Cipto. M.A (Prof. B.C): Sekitar tahun 2002, kalau nggak salah ingat, saya pernah diundang Kemenlu untuk sebuah seminar tentang China di sebuah hotel di Jakarta. Pada waktu seingat saya Dubes China untuk Indonesia menolak pernyataan saya bahwa kelak tahun 2017-an China akan menjadi Superpower berdasarkan berbagai sumber yang saya baca saat itu. Inilah salah satu inspirasi untuk menulis buku tentang China. Disamping itu literature Barat tentang strategi China juga nyaris belum muncul atau saya mungkin belum menemukan sehingga ditulis sendiri untuk memenuhi kebutuhan bacaan bermutu dan trendi bagi adik2 mahasiswa kita.

Image: Dokumentasi Pribadi Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A


Hi.id: Mengapa China perlu mengambil status sebagai Negara Superpower? Mengapa tidak membiarkan Amerika Serikat saja yang memegang kendali tersebut?

 

Prof. B.C: Sebetulnya kemungkinan China menjadi Superpower pernah diprediksi oleh Napoleon yang menyatakan bahwa “China is a sleeping Giant. Let China sleep because for she wakes she will shake the world.” (Quand la Chine s’eveillera, ie monde tremblera). Sementara itu Sun Tzu pernah mengatakan bahwa "if you know your the enemy and you know your self, you need not fear the results of a hundred battles." China juga berkali-kali menghadapi percobaan Barat dan Jepang untuk menguasai negara raksasa tersebut. Secara psikologis sejarah ini ikut membentuk mind set Superpower dalam bentuk para elit politik China.

 

Hi.id: Buku yang Anda tulis menyebut sejumlah strategi yang dilakukan China untuk merebut status Superpower dengan memperkuat beberapa sektor. Sektor mana yang paling kuat yang menjadi modal utama China menjadi super power saat ini?

 

Prof. B.C: Kalau memperhatikan strategi yang dilancarkan China tampaknya sektor ekonomi, industri dan teknologi tinggi merupakan sektor-sektor yang paling kuat dan paling ditakuti Amerika saat ini.

 

Hi.id: Menjadi penantang Amerika Serikat, China tentu memiliki beberapa kekurangan. Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, sektor manakah yang menjadi titik kekurangan China?

 

Prof. B.C: Salah satu kekurangan China saat ini adalah ketidakmampuan China meninggalkan praktek-praktek buruk otoritarianisme. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebijakan China di Xinjiang yang sangat represif sangat merugikan dan menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai contoh China saat ini menahan tidak kurang dari 1 juta warga Uyghur muslim di Xinjiang dan melakukan tindakan sewenang-wenang lain yang menghina kaum muslimin yang merupakan penduduk mayoritas propinsi Xinjiang. Sayang bahwa negara-negara Barat saat ini juga tampak tidak peduli dengan tragedi uyghur tersebut karena mengutamakan kerjasama ekonomi dengan Chinan sehingga kurang peduli terhadap kaum muslimin di kawasan tersebut.

 

Hi.id: Respon dunia internasional melihat kebangkitan China tentu mendapat pro dan kontra. Bagaimana China berdiplomasi menghadapi hal ini?

 

Prof. B.C: Kebangkitan China diawali dengan keberhasilan China dalam membangun perekonomian dalam negeri. Keberhasilan ini mulai mempengaruhi hubungan internasional sejakterus menerus meningkatkan kerjasama ekonominya dengan berbagai negara di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan dan Afrika pada saat Amerika sibuk melakukan kampanye perang melawan terorisme di Timur Tengah.

 

Kecurigaan Barat khususnya Amerika adalah sejak munculnya istilah the Rise of China oleh pimpinan pemerintah China namun kemudian diubah oleh Hu Jintao menjadi the Peaceful Development untuk menenangkan kecurigaan Barat terhadap kemungkinan kebangkitan China sesungguhnya.

 

Pada saat Xi Jinping naik ke puncak kepmimpinan China tahun 2013 ia menggulirkan kebijakan the New Silk Road di Kazakhstan, negara Asia Tengah yang sudah cukup lama menjalin hubungan perdagangan dengan China sekaligus jembatan pipa minyak dan gas alam dari Asia Tengah ke daratan China. Kelak the New Silk Road berkembangan menjadi Belt and Road Initiative (BRI) yang merrupakan proyek pembangunan jalan, jembatan, rel kereta api, pelabuhan dan sistem komunikasi dengan China sebagai pemasok dana, tenaga ahli, dan material bangunan. Kebijakan BRI ini mirip Marshall Plan Amerika tahun 1948 di Eropa. Tapi BRI jauh lebih luas cakupanya karena meliputi kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah, Eropa Timur, Timur Tengah dan Afrika bahkan Eropa. Kebijakan ekonomi ini tidak disertai embel-embel demokrasi dan HAM sebagaimana bantuan luar negeri Amerika dan Eropa di negara-negara berkembang. Karakter ini sangat menarik kebanyakan negara berkembang.

 

Hi.id: Sumber Daya Manusia (SDM) tentu menjadi salah satu hal yang fundamental dalam menopang sebuah Negara. Bagaimana China mempersiapkan SDM-nya untuk menopang ambisi ini?

 

Prof. B.C: Sejak 1979 Deng Xiaoping telah mengirimkan ratusan mahasiswa ke Amerika meraih gelar Master dan PhD di Universitas ternama di negeri Paman Sam. Para alumni Amerika inilah yang kini menjadi elit politik, ekonomi, industri, teknologi, pendidikan dan keuangan China saat ini. merekalah penggerak utama dan menempatkan China sebagai the Largest eocomy setahun dua tahun yang lalu.


China menduduki ranking sangat tinggi dalam jumlah artikel scopus dibandingkan Amerika. China juga memfasilitasi para profesor China maupun non China dengan fasilitas serba mewah tidak kalah dari kampus-kampus di Amerika dan Eropa untuk menghasilkan karya-karya akademik kelas dunia. Profesor di China bergaji tidak kurang dari US$ 300 ribu hingga 400 ribu per tahun dengan fasilitas lengkap. Kerjasama PT China dan PT Barat sudah berlangsung cukup lama. China juga mengundang Profesor top dari berbagai belahan dunia untuk mengejar ketinggalan dari Barat. Kampus-kampus China sudah seperti kampus di Barat fasilitasnya sehingga berani bersaing dengan kampur dunia.

 

Hi.id: China mendapatkan perlawanan dari Amerika Serikat yang mencoba menggunakan strategi perang dagang untuk menghantam China. Apakah ini strategi yang tepat menurut Anda? Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Amerika Serikat dan China?

 

Prof. B.C: Perang Dagang merupakan strategi Trump untuk menekan kemajuan ekonomi, sains dan teknologi China yang seakan tak terbendung. Sebetulnya berpotensi merugikan keduanya namun China memiliki cara untuk melawan balik sambil mencari jalan keluar jika situasinya genting khusus pada sektor tertentu yang menuntut tindakan cepat. Perang Dagang merupakan langkah awal Amerika untuk menghentikan sama sekali kemajuan China oleh karena itu Trump menuntut China menghentikan kebijakan Made in China 2025 yang meresahkan Amerika.

 

Hi.id: Kekuatan China saat ini membawa “terror” tersendiri bagi kawasan ASEAN khususnya terkait Laut China Selatan. Indonesia pun turut merasakan hal ini. Bagaimana pendapat Anda tentang kehadiran China di kawasan ASEAN?

 

Prof. B.C: Kehadiran China memberikan keuntungan bercampur kecemasan. ASEAN perlu memanfaatkan peluang bisnis secara kritis sebagaimana Mahathir lakukan. Tetap tenang dan bekerjasama sambil mengawasi segala kemungkinan buruk yg mungkin terjadi

 

Hi.id: Strategi China untuk menjadi Superpower tentu tidak luput dari dominasi di kawasan Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan potensial untuk menopang kekuatan China. Bagaimana Indonesia harus bersikap dalam hal ini?

 

Prof. B.C: China adalah peluang sekaligus tantangan. Indonesia perlu melihat China dalam perspektif tersebut sehingga mengambil manfaat sebanyak mungkin. Oleh karena itu, sebaiknya Indonesia mengambil sikap moderat dan penuh kewaspadaan. Mahatir sangat bagus dalam menanggapi proyek China di Malaysia. Kita perlu belajar dari negarawan senior Malaysia yang sangat berpengalaman dalam urusan politik luar negeri.

 

Hi.id: Bagaimana Indonesia dapat mengambil keuntungan dari proyek ambisius China ini?

 

Prof. B.C: Indonesia dapat memanfaatkan pasar china yang nyaris tak terbatas sejauh kita mampu melakukannya. Sebagai peluang Indonesia dituntut untuk mampu menjadikan pasar China yang sangat besar sebagai pasar komoditi Indonesia. Pasar China nyaris tidak terbatas apaagi lebih dari 500 juta penduduk China akan naik status menjadi kelas menengah. Kebutuhan kelas sudah tentu sangat banyak dan kita perlu pakar ekonomi untuk identifikasi kebutuhan kelas menengah mereka. Mereka juga hobi traveling karena banyak uang di saku. Turisme Indonesia, misalnya, perlu didisain sedemikian rupa agar kelas menengah China suka dengan Indonesia. Jumlah mereka sangat banyak untuk tidak dimanfaatkan oleh Indonesia.

 

HI.id: Bagaimana jika ada pembaca yang tertarik untuk berdiskusi membahas buku yang Anda tulis? Apakah berkenan jika dihubungi melalui email?

 

Prof. B.C: Silahkan saja yang berminat dengan senang hati saya bersedia dihubungi melalui Email: bcipto2000@gmail.com

 

HI.id: Terimakasih Prof Bambang atas kebersediaannya menjawab pertanyaan dari hubunganinternasional.id

 

Prof. B.C: Semoga program wawancara ini terus berkembang dan bermanfaat bagi komunitas hubungan internasional khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

 

Sebagai penutup, Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu modal dalam pembangunan sebuah Negara. Membangun SDM memang tidak mudah akan tetapi kualitas SDM tentunya merupakan hal yang penting bagi perkembangan masa depan sebuah Negara. Jadi, tidak perlu malu-malu membangun kualitas SDM dengan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia

 

Bagi pembaca sekalian yang berminat untuk pesan buku Strategi China Merebut Status Superpower dapat dipesan dengan cara klik link berikut ini

comments powered by Disqus