Hollywood Sebagai Instrumen Diplomasi Kebudayaan Amerika

  • Sep 27, 2021
  • /
  • Buku
  • /
  • Admin
  • 119

Profil Buku
Judul: Hollywood Sebagai Instrumen Diplomasi Kebudayaan Amerika
Penulis: Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si
Penerbit: Komojoyo Press
Tahun: 2021


Hubunganinternasional.id (HI.id): Apa yang melatarbelakangi anda menulis buku “Hollywood Sebagai Instrumen Diplomasi Kebudayaan Amerika”?

Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si (T.W): Ada ironika dalam stereotipikal persepsi masyarakat terhadap Hollywood sebagai Lembaga hiburan negara super power, yaitu di satu sisi Hollywood dianggap sebagai alat propaganda politik Amerika, tetapi di sisi lain banyak film-film yang mengkritik kebijakan pemerintah Amerika. Buku ini ditulis Sebagian alasannya adalah untuk menegaskan ironika itu apakah benar adanya, dan mengapa harus demikian?

HI.id: Bagaimana politik masuk dalam kebudayaan Hollywood? Mengapa hal ini bisa terjadi?

T.W: Sebagai pelaku dunia usaha di negara liberal kapitalis, produk-produk Hollywood mencerminkan kebebasan yang liberal itu. Karenanya, politik sebagai bagian (bahkan bagian utama) gaya hidup senantiasa menempelkan dalam berbagai pesan film mereka.

HI.id: Anda menyebutkan dalam buku bahwa sinematografi digunakan dalam Politik Luar Negeri Amerika Serikat. Mengapa menggunakan cara ini dan apa yang ingin mereka raih?

T.W: Dalam “Kesepakatan Washington-Hollywod” dijelaskan perlunya kesamaan pesan yang terkandung dalam film-film Hollywod sebagai mendukung posisi politik Amerika dalam hubungan internasional, karena melalui media film, konstruksi propaganda lebih mudah diterima publik dunia daripada dengan orasi dogmatis. Di dalam negeri Hollywood boleh mengkritik pemerintah sekeras-kerasnya, tetapi untuk kebijakan Luar Negeri harus tampil bak pengantin baru yang mesra.

HI.id: Seiring dengan mengglobalnya film-film Hollywood, nilai-nilai kebudayaan masyarakat barat (U.S) juga ikut serta dalam konten film tersebut. Bagaimana dampak hal ini terhadap kebudayaan-kebudayaan di negara lain?

T.W: Superioritas AS telah lama menjadi eksepsionalitas (pengecualian) yang sering muncul sebagai “unggul”, itulah sebabnya kebudayaan Amerika dengan mudah dan cepat “menular” kemana-mana dan menimbulkan gelombang peniruan yang bernilai ekonomi. Banyak masyarakat dunia terbuai oleh pesan kebebasan Amerika dengan segala atributnya, dan ingin menirunya dengan gaya atribut dari Amerika.

HI.id: Dalam buku ini anda menyebutkan beberapa film yang menurut anda memiliki unsur Diplomasi Kebudayaan Amerika. Film mana yang menjadi favorit anda dari list tersebut? Mengapa?

T.W: Sebenarnya saya bukan penggila film Amerika. Saya hanya suka membaca resensi film-film mereka. Bagi saya, film-film yang (ternyata) tidak didesain untuk muatan politik pun nampak seperti propaganda politik. Sinematografinya sangat menghanyutkan sehingga kita terasa dibawa di alam multi dimensi yang berlapis. Karena saya berlatar Pendidikan politik, insting ilmu politik saya mencurigai film itu sebagai film politik. Padahal bukan. Salah satu contohnya adalah film “All The President's men (1976)”, ternyata didesain lebih untuk hiburan saja.

Image: Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si

Hi.id: Apa yang ingin anda sampaikan kepada pembaca melalui karya anda ini?

T.W: Saya ingin menunjukkan bahwa dari negara besar (super power) karya-karya film selalu membawa pengaruh sebesar posisi politik mereka dalam hubungan Internasional. Bahkan orang boleh mengatakan bahwa hanya negara-negara besar saja yang dapat menghasilkan karya film yang besar (berpengaruh). Atau dengan kata lain, jika suatu negara menganggap sebagai negara besar harus dapat membuktikan sebagai produser film yang besar juga. Buktikan saja.

HI.id: Apakah anda bersedia dihubungi terkait karya anda?

T.W: tulusw_umy@yahoo.com

HI.id: Terima kasih atas kesediaannya menjawab pertanyaan dari kami. Semoga karya anda bermanfaat bagi masyarakat luas khususnya penstudi Hubungan Internasional.


About The Author

Comments

Comment has been disabled.