Kebijakan Luar Negeri Isolasionis Korea Utara: Analisis Teori Graham T. Allison

  • May 28, 2021
  • /
  • Opini
  • /
  • Admin
  • 1099

Republik Rakyat Demokratik Korea, atau disebut juga Korea Utara adalah sebuah negara yang terletak di Asia Timur, berbatasan dengan China dan Rusia di utara, Republik Korea (Korea Selatan) di selatan, Laut Jepang di timur, dan Laut Kuning di barat. Negara yang pernah bersatu dengan Korea Selatan di bawah nama Korea ini terbelah dua searah garis lintang 38 derajat pada tahun 1948 karena Korut menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum yang diawasi oleh PBB. Penolakan tersebut berujung pada meletusnya Perang Korea (1950-1953) yang diakhiri oleh perjanjian gencatan senjata tanpa partisipasi Korsel, sehingga kedua Korea masih secara teknis berperang satu sama lain hingga sekarang. Negara yang berdiri secara resmi pada tanggal 9 September 1948 oleh Kim Il-sung ini menguasai bagian utara Semenanjung Korea sedangkan bagian selatan Semenanjung Korea dikuasai oleh Korsel.


Aktor Rasional, Proses Birokrasi, dan Negosiasi
Dalam menganalisis studi kasus ini, penulis agar dapat menganalisa dan membuat tulisan ini lebih terarah maka menggunakan konsep analisis kebijakan luar negeri yang dicetuskan oleh Graham T. Allison untuk dapat membantu dalam membahas mengenai kebijakan luar negeri Korut yang cenderung isolasionistik dalam politik internasional.


Dalam konsep yang dicetuskan Graham T. Allison sendiri untuk menganalisis sebuah pengambilan kebijakan luar negeri terdapat tiga poin penting di dalamnya yaitu: Pertama, aktor rasional dengan melihat bahwa tindakan aktor rasional dapat menentukan masa depan negaranya melalui pengambilan keputusan dalam kebijakan luar negeri negara tersebut. Seperti kasus Korut yang hingga kini cenderung berprinsip isolasionisme dalam pergaulan internasional karena keputusan negara tersebut di masa lampau akibat krisis yang telah terjadi. Kedua, proses organisasi melihat bahwa proses pengambilan keputusan akan melewati suatu tahapan birokrasi pemerintahan dengan batasan batasan seperti SOP (Standard Operational Procedure), ideologi, maupun hukum yang berlaku di negara tersebut. Ketiga, politik pemerintahan melihat bahwa kebijakan luar negeri dirumuskan melalui sebuah proses yang saling mempengaruhi antara pimpinan negara seperti melalui negosiasi/tawar menawar antara pemegang pemerintahan lainnya.

Image: Source

Dapat disimpulkan bahwa Graham T. Allison dalam analisisnya terhadap kebijakan luar negeri suatu negara mencoba untuk membahas kebijakan luar negeri dengan memperhitungkan bahwa negara adalah aktor rasional yang mencoba untuk menentukan nasib bangsa mereka supaya dapat mengatasi suatu masalah yang dialami atau mencoba menjadi lebih baik, lalu setelah negara membuat suatu keputusan perlu melihat bagaimana proses organisasinya seperti batasan-batasan mereka dan latar belakang mereka, seperti contoh kasus Korut ini yang menganut ideologi Juche sehingga pemimpin mereka memiliki kekuasaan absolut atas negaranya dan memiliki cengkraman kuat dalam politik internal Korut.


Juche dan Ketertutupan Korea Utara dalam Dinamika Hubungan Internasional
Korea Utara oleh dinasti keluarga Kim selama tiga generasi sejak pendirian negara tersebut pada tanggal 9 September 1948 dan Partai Buruh Korea (Workers Party of Korea/WPK) sebagai satu-satunya partai politik yang legal. Founding father DPRK Kim Il-sung merancang suatu ideologi bernama Juche yang hingga kini masih menjadi pandangan hidup masyarakat Korut.


Di bawah kekuasaan Presiden Kim Il-sung, Korut memiliki ideologi baru sama halnya dengan proklamator Indonesia Soekarno yang me ideologi Pancasila, yang bernama Juche (bahasa Korea: “주체/主體”), biasanya tidak diterjemahkan namun kadang-kadang dapat didefinisikan “berdikari”. Ideologi ini merupakan varian dari Marxisme-Leninisme dengan akulturasi nasionalisme Korea, Konfusianisme dan fasisme Jepang supaya dapat menjadi ideologi yang sesuai bagi masyarakat Korut.


Proses pendirian Korut dimulai ketika Semenanjung Korea diserahkan kepada Blok Sekutu pada tahun 1945 dari Jepang yang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II (1939-1945) dan terbagi menjadi dua setelah adanya kegagalan untuk mencapai suatu kesepakatan agar dapat menyatukan Semenanjung Korea kembali menjadi Korea bagian selatan dan Korea bagian utara. Korea Selatan (Republik Korea, dipimpin oleh Syngman Rhee yang anti-komunis) diserahkan kepada Amerika Serikat sehingga paham liberal dan kapitalis melekat di Korsel, sedangkan Korea Utara (dipimpin oleh Kim Il-sung) diserahkan kepada Uni Soviet sehingga paham totalitarianisme dan ateisme melekat kuat di Korut.


Pengaruh dari Uni Soviet begitu melekat di Korut sehingga ideologi yang diciptakan oleh Kim Il-sung yaitu ideologi Juche pun tidak terlepas dari pengaruh Soviet, dimana ideologi tersebut merupakan varian dari Marxisme-Leninisme yang telah disesuaikan dengan budaya nasional Korut. Menurut doktrin Juche, Dinasti Kim adalah makhluk yang sempurna, hampir seperti Tuhan dan rakyat Korut berutang kepada mereka. Bagi masyarakat Korut, Kim Il-sung bukan hanya sekedar Bapak Pendiri Bangsa, namun juga dewa yang menciptakan umat manusia. Semua yang diucapkannya adalah perintah yang harus dilaksanakan. Korut menggunakan kalender Juche yang dimulai pada tahun 1912, ketika Il-sung lahir.


Efektivitas Juche dibuktikan ketika terjadi perpecahan China-Soviet 1956, Korut tetap netral. Il-sung juga berusaha mengisolasi Korut dari geopolitik global, menghindari globalisasi dan menolak ketergantungan pada pihak asing manapun. Namun, ketika Uni Soviet (mitra dagang dan sumber bantuan utama bagi Korut) runtuh dan Blok Timur bubar pada akhir Perang Dingin, Korut mengalami bencana kelaparan dan krisis ekonomi, sehingga terpaksa menerima bantuan internasional dari Korsel, AS dan PBB. Ketika Kim Il-sung meninggal karena serangan jantung, dia ditetapkan sebagai “Presiden Abadi” dan digantikan oleh anaknya Kim Jong-il, menciptakan dinasti komunis pertama di dunia yang masih bertahan hingga sekarang dengan dipegangnya kekuasaan oleh Kim Jong-un, salah satu kepala negara termuda di dunia sekaligus cucu dari Kim Il-sung. Pemerintah Korut juga merancang kultus kepribadian yang ekstrem, dimana patung Kim Il-sung dan Kim Jong-il tersebar di setiap sudut perkotaan.


Penerus Kim Il-sung yang tidak lain adalah anaknya sendiri, Kim Jong-il mencetuskan kebijakan Songun (military-first), yang mengutamakan militer dalam pembangunan ekonomi dan kehidupan masyarakat DPRK. Sebagai Pemimpin Tertinggi, Jong-il memperoleh gelar “Dear Leader”. Rezim Jong-il berargumen bahwa Korut memproduksi senjata nuklir secara rahasia karena kebutuhan keamanan dengan merujuk kepada keberadaan senjata nuklir AS di Korsel. Pada 9 Oktober 2006, kantor berita resmi pemerintah Korut KCNA (Korean Central News Agency) mengumumkan keberhasilan Korut dalam mengadakan uji coba senjata nuklir di bawah tanah. Pada 17 Desember 2011, Jong-il meninggal dunia saat bepergian menggunakan kereta ke luar ibu kota Pyongyang akibat serangan jantung dan Kim Jong-un diumumkan sebagai penerus yang berkuasa hingga kini.

Image: Source


Berbagai alasan kenapa Korut menjadi negara yang tertutup rapat yang tidak bisa sembarangan dikunjungi oleh wisatawan asing, bahkan banyak orang yang mengaku bahwa jika mereka mengunjungi negara tersebut, karena memiliki peraturan yang aneh dan sangat berbeda dengan negara lain seperti dilakukannya pemeriksaan yang sangat ketat baik saat masuk maupun keluar dari negara tersebut dengan mengecek barang-barang bawaan mereka terutama hal-hal yang berbau agama (seperti Alkitab), material-material anti-pemerintah Korut (seperti film The Interview (2014)) ataupun foto-foto yang kebanyakan tidak boleh disebarluaskan (seperti kemiskinan dan instalasi-instalasi militer), serta mereka yang mengaku pernah berlibur ke sana mengatakan bahwa mereka sangat diawasi bahkan tidak heran jika mereka disadap percakapannya oleh agen-agen pemerintah dengan tujuan mencegah praktik spionase yang akan membocorkan informasi atau aib tentang Korut ke luar negara tersebut. Ketika tiba di Korut, pemandu wisata akan meminta paspor para traveler dan menyimpannya dengan alasan keamanan. Selain itu, agen-agen perbatasan Korut secara random menyita ponsel pengunjung. Tur sudah diatur sedemikian rupa dengan hanya mengunjungi situs resmi, berbelanja di toko yang disetujui, dan berbicara hanya kepada pemandu resmi.

Berikut adalah faktor-faktor kenapa Korut begitu tertutup: Pertama, faktor pengaruh China. Menurut para sejarawan, China berpengaruh terhadap tertutupnya negara DPRK karena pada era kekuasaan Dinasti Joseon di Semenanjung Korea, budaya China diwariskan terhadap Korea yang menganut paham isolasionisme. Kedua, invasi-invasi asing terhadap Semenanjung Korea. Korea sebagai aktor yang rasional menempatkan dirinya untuk mengisolasi diri demi melindungi rakyat dan wilayahnya dari invasi-invasi yang terjadi di masa Perang Dunia II. Menurut perspektif mereka pada saat itu yang beranggapan bahwa kekuatan dan pengaruh asing harus dicegah baik menggunakan soft power maupun hard power. Ketiga, ideologi yang mengusung teori kemandirian. Seperti yang telah diketahui bahwa Korut memiliki sebuah ideologi yang dikembangkan oleh Kim Il-sung yang bernama Juche, yang menjadi ideologi resmi Korut yang memiliki prinsip kemandirian politik, ekonomi dan militer. Keempat, runtuhnya Uni Soviet dan pidato Axis of Evil. Runtuhnya raksasa komunis Uni Soviet pada tahun 1991 dan pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush dalam State of the Union yang menggolongkan Korut ke dalam Axis of Evil pada tahun 2002 (bersama Iran dan Irak) menyebabkan DPRK semakin terisolasi, bahkan memperkuat hubungan dengan negara-negara lain yang juga menghadapi sanksi Barat, seperti Iran, Rusia, Suriah, Kuba dan Venezuela.

Negara-Negara yang Memiliki Hubungan Diplomatik dengan Korea Utara
Korea Utara tidak banyak membangun jaringan diplomatik internasional. Di antara segelintir negara yang dipelihara hubungan baiknya, China adalah sekutu kunci sepanjang sejarah dan eksistensi Korut. Hubungan antara China dan Korut telah dibangun semasa Perang Korea (1950-1953). Pada era 1970-an, ketika Presiden AS Richard Nixon mengunjungi China sebagai bagian dari detente, Korut menganggap bahwa Beijing telah mengkhianati perjuangan bersama melawan imperialisme AS dan hanya Korut sendiri yang akan menghadapi kekuatan AS di Asia. Namun, segera setelah kunjungan tersebut, demi meredakan kemarahan sekutu kuncinya, China menawarkan bantuan ekonomi dan militer baru pada Korut untuk 15 tahun ke depan.


Hubungan aliansi antara China dan Korut hingga kini masih erat. Meskipun beberapa pihak menilai terjadi sedikit guncangan dalam hubungan dekat ini dengan adanya dukungan China terhadap sanksi-sanksi PBB yang dikenakan pada Korut akibat uji coba nuklirnya.


Pada 1960-an dan 1970-an, Korut mulai menjangkau negara-negara Dunia Ketiga yang baru merdeka dari kolonialisme Barat, bersaing dengan Korsel untuk mendapatkan pengakuan diplomatik. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Korut meningkatkan kontak diplomatik dengan negara-negara kapitalis seperti AS, Jepang dan Eropa Barat. 164 negara di dunia telah menjalin hubungan diplomatik formal dengan Korut, dimana 25 dari mereka memiliki kedutaan besar di Pyongyang.


Daftar Pustaka
Setiawan, A. (2020, 3 Mei). “Ideologi Juche Korea Utara”. historia.id. Diakses dari https://historia.id/politik/articles/ideologi-juche-korea-utara-DB8n5/page/1. Diakses pada 28 Mei 2021


Wardoyo, S. (2020, 26 April). “Ekonomi Korut di Bawah Kim Jong Un: Barang Ilegal & Hacker”. CNBC Indonesia. Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20200426205126-4-154557/ekonomi-korut-di-bawah-kim-jong-un-barang-ilegal-hacker. Diakses pada 28 Mei 2021


Putra, A. F. P. (2016). “Kebijakan Luar Negeri Korea Utara di bawah Kepemimpinan Kim Jong-un dalam Proliferasi Nuklir terhadap Korea Selatan Tahun 2013-2015”. JOM FISIP. Vol 3, No 2, h. 1-10. Lihar artikel PDF


Yani, P. F. M., Mangku, D. G. S., Windari, R. A. (2018). “Hubungan Diplomatik antara Korea Utara dan Malaysia Pasca Terbunuhnya Kim Jong Nam Ditinjau dari Konvensi Wina 1961”. e-Journal Komunitas Yustisia Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Ilmu Hukum. Vol 1, No 2, h. 111-120. Lihar artikel PDF


Szczepanski, K. (2019, 13 Januari). “The Role of the Joseon Dynasty in Korean History”. ThoughtCo. Diakses dari https://www.thoughtco.com/the-joseon-dynasty-in-korea-195719. Diakses pada 28 Mei 2021


Lestari, I. (2020, 30 Mei). “Kenapa Korea Utara Sangat Tertutup?” ilmugeografi.com. Diakses dari https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/kenapa-korea-utara-sangat-tertutup. Diakses pada 28 Mei 2021


Wikitravel. “North Korea”. Wikitravel. Diakses dari https://wikitravel.org/en/North_Korea. Diakses pada 28 Mei 2021


Wertz, D. (2016, Agustus). “DPRK Diplomatic Relations”. ncnk.org. Diakses dari https://www.ncnk.org/resources/briefing-papers/all-briefing-papers/dprk-diplomatic-relations. Diakses pada 28 Mei 2021


Dayana, A. S. (2019, 7 Agustus). “Kekuatan Militer Korut 2019 dari Persenjataan hingga Sumber Daya”. tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/kekuatan-militer-korut-2019-dari-persenjataan-hingga-sumber-daya-efNH. Diakses pada 28 Mei 2021



Penulis: Rayno Argaditya. Mahasiswa Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta

Email:

Editor: Tim HubunganInternasional.id


About The Author

Comments

Comment has been disabled.