Menguak Mitos “Kehebatan” SU-35 Rusia dan Kebutuhan Pesawat Tempur untuk Indonesia

  • May 20, 2021
  • /
  • Opini
  • /
  • Admin
  • 399

Polemik mengenai pembelian alutsista pengganti skuadron pesawat tempur F5 Tiger belum berakhir. Pihak Indonesia berkeinginan untuk mengakuisisi Sukhoi Su35 buatan Rusia. Sukhoi 35 merupakan salah satu jenis jet tempur generasi 4,5 yang memiliki avionik canggih (Airforce Technology, 2008). Di sisi lain Amerika Serikat (AS) melalui sanksi CAATSA (The Countering America's Adversaries Through Sanctions Act) dirumorkan menghadang rencana tersebut. CAATSA merupakan peraturan yang dibuat berupa sanksi dan embargo terhadap negara-negara yang bekerjasama dengan Rusia, Iran maupun Korea Utara (CNN Indonesia, 2020). Tentu saja ancaman semacam ini akan membuat rencana Indonesia dalam pembelian alutsista buatan Rusia batal.


Indonesia hingga saat ini membutuhkan jet tempur dengan kemampuan tinggi untuk mengganti jet-jet tempur lama yang notabene teknologinya sudah ketinggalan zaman. Berdasarkan pada pernyataan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pada tahun 2014 bahwa alasan Indonesia berencana untuk mengganti skuadron F5 Tiger dengan pesawat tempur berteknologi terbaru seperti Su35 yang berkemampuan membawa rudal jarak jauh. Panglima TNI kala itu, Jenderal Moeldoko juga mengungkapkan bahwa ada beberapa opsi, tidak hanya Su35 namun juga kandidat lain seperti F-15 Eagle/F-16 Fighting Falcon buatan AS hingga pesawat tempur buatan Swedia seperti SAAB Jas 39 Gripen (Marbun, 2014). Di sisi lain, beberapa kendala dihadapi oleh TNI AU seperti terbatasnya anggaran untuk dibagikan pada tiga matra(darat, laut dan udara), perencanaan kebutuhan alutsista yang belum matang dan terbatasnya dukungan industri pertahanan domestik (RSIS Policy Report, 2014).

Image: Source


Dalam kondisi demikian, pembuat kebijakan pertahanan akan mengambil langkah yang paling aman dan menguntungkan untuk kepentingan Indonesia. Hal ini disebabkan oleh status Indonesia yang saat ini juga merupakan negara pengguna alutsista pesawat tempur buatan AS seperti misalnya F16 dan pesawat angktu C-130 Hercules. Dalam konteks modernisasi skuadron tempur, mau tidak mau Indonesia harus mempertimbangkan untuk beralih ke produsen alutsista udara selain Rusia, apabila memang Su35 menjadi kandidat terkuat berdasarkan isu yang beredar. Hal ini diperlihatkan ketika pada bulan Februari 2021 Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menyatakan bahwa TNI AU akan membeli sejumlah alutsista termasuk jet tempur buatan Eropa dan AS “Mulai tahun ini hingga tahun 2024, kita akan segera merealisasikan akuisisi berbagai alutsista modern secara bertahap. Beberapa di antara alutsista tersebut adalah pesawat multi-role combat aircraft F-15 EX dan Dassault Rafale, Radar GCI4, pesawat berkemampuan Airborne Early Warning, pesawat tanker yakni Multi Role Tanker Transport, pesawat angkut C-130 J, UCAV berkemampuan MALE dan berbagai alutsista lainnya,” (Sandi, 2021). Fadjar Prasetyo sama sekali tidak menyebutkan rencana akuisisi jet tempur Sukhoi meskipun nota kesepahaman pembelian alutsista antara Rusia dan Indonesia telah ditandatangani (DefenseWorld.net, 2021).


Terlepas dari rumor sanksi CAATSA yang akan diterapkan AS terhadap Indonesia maupun pernyataan publik oleh KSAU, yang harus dipahami adalah terdapat beberapa masalah utama yang mesti diperhatikan. Salah satu dari masalah utama diantara pilihan apakah Indonesia perlu menggunakan jet tempur buatan Rusia, Eropa ataupun Amerika adalah pada pertimbangan biaya perawatan yang nantinya akan mempengaruhi performa kerja dan usia pakai alutsista tersebut. Hal ini pernah disampaikan oleh Muradi, salah satu pengamat militer dari Universitas Padjajaran pada bulan Juni 2015 “....tapi sukhoi itu maintenance memang mahal. Kalau soal suku cadang bisa di kanibal ya nyaman F-16,…” (Wiyanti, 2015).


Mahalnya biaya maintenance pesawat tempur Sukhoi juga ditampilkan dari sisi biaya penggunaan perjam terbang. Dikutip dari laman Pakistan Defence, biaya terbang Su35 per jam dapat menembus angka 14000 Dolar AS. Sebagai perbandingan, biaya terbang Su27/30 yang merupakan varian Sukhoi milik angkatan udara RI saat ini mencapai 7000 Dollar AS. Sukhoi varian 27/30 dan 35 merupakan jet tempur dari pabrikan yang sama di Rusia. Perbandingan lebih lanjut adalah dengan jet tempur F16 milik TNI AU buatan AS dengan biaya terbang per jam hanya mencapai 3600 Dolar AS (Pakistan Defence, 2010). Perbandingan ini menunjukkan betapa tingginya biaya yang harus digelontorkan apabila benar-benar TNI AU mengoperasikan Su35 sebagai pengganti jet tempur lama mereka.


Perbedaan mencolok lainnya adalah pada doktrin penggunaan jet tempur buatan Rusia dan AS. Jet tempur Rusia seperti Sukhoi dianggap senjata pamungkas yang hanya digunakan sekali pakai dalam pertempuran. Apabila mengalami kerusakan, jet tempur Sukhoi tidak seharusnya dapat digunakan kembali dan harus diganti oleh unit yang baru. Hal ini berkebalikan dengan F16 buatan AS yang bisa digunakan berulang-ulang atau bisa diganti suku cadangnya secara parsial (Tribun-Bali.com, 2018). Oleh sebab itu, pertimbangan untuk menjajaki jet tempur baru harus melihat pada cara negara produsen memakai alutsista buatannya.

Image: Source


Diatas semuanya, memilih jet tempur pengganti buatan Amerika atau Eropa lebih menggiurkan. Hal ini menimbang pada aspek keberlanjutan pengoperasian alutsista terlebih untuk TNI AU yang membutuhkan banyak dana dalam memelihara alat dan teknologi tempur dimana hingga saat ini perawatan keduanya belum didukung oleh kemandirian produksi alutsista dalam negeri. Meski Indonesia memiliki industri pertahanan “plat merah“ yang memiliki spesialisasi matra darat, laut dan udara misalnya PT PAL, PT Pindad, PTDI dan sebagainya, tercatat untuk beberapa aset alutsista strategis seperti pesawat tempur, kapal perusak, roket, rudal, radar dan pesawat nirawak belum dapat dipenuhi oleh pabrikan domestik. Dalam kurun waktu 2014-2018 SIPRI mencatat bahwa Indonesia masuk dalam jajaran urutan 12 importir terbesar alutsista global (Purwanto, 2020). Di tahun 2020 Indonesia menghabiskan 9,4 miliar dolar yang mana masuk dalam urutan 25 dari 40 negara-negara di dunia yang memiliki anggaran belanja alutsista global, naik satu peringkat lebih tinggi dibanding satu tahun sebelumnya (SIPRI Fact Sheet, 2020).


Aspek keberlanjutan ini dapat dilihat dari pengalaman selama di lapangan. Misalnya saja pada Agustus 2020 TNI AU melakukan peningkatan kemampuan tempur dua unit jet tempur F16 dari sepuluh yang direncanakan melalui kerjasama antara PT Pindad dengan Lockheed Martin dan Foreign Military Sales. Yang menjadi keunggulan adalah program yang dilaksanakan dalam naungan Proyek Falcon Star-eMLU ini dilakukan di “bengkel lokal“ Indonesia sehingga dapat menurunkan biaya perawatan. Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyatakan “Anggaran untuk ini misalkan 10 sampai 12 juta dolar persatu pesawat. Bandingkan dengan membeli yang baru nilainya 90 juta,“. Metode semacam ini sebenarnya juga dapat meningkatkan kompetensi para mekanik AU dengan hasil mampu memperpanjang usia pakai pesawat hingga 20 tahun kedepan (Irawan, 2020). Hal ini berbanding terbalik dengan pengalaman TNI AU dalam mengoperasikan jet tempur Sukhoi yang harus melakukan overhaul di luar negeri. Seperti halnya pada 28 Juli 2019 TNI AU melakukan upgrade sejumlah jet tempur Sukhoi 30 ke Belarusia (Parameswaran, 2019). Tentu saja membawa alat perang sebesar pesawat tempur memerlukan biaya lebih untuk membayar moda transportasi ke luar negeri.


Dari paparan singkat ini, pendeknya dapat diketahui bila pemeliharaan alutsista terutama milik AU akan lebih mudah dan murah apabila dapat dilakukan sendiri. Apalagi pemeliharaan kelas berat dapat menjadi nilai plus jika secara mandiri mampu dilaksanakan. Kemandirian industri pertahanan menjadi penting karena perannya sebagai salah satu pilar pertahanan bangsa (Kementerian Pertahanan RI, 2012).
Poin tambahan yang tidak kalah penting adalah keberagaman jenis alutsista yang dimiliki Indonesia juga dapat menjadi masalah fundamental (Ajinugroho, 2020). Banyaknya senjata impor menandakan mitra jual-beli senjata tidak terpaku pada satu negara saja. Hal ini akan membuat Indonesia harus mempertimbangkan biaya lebih banyak untuk melalukan perawatan alutsista yang bermacam-macam jenisnya. Pasalnya belum tentu seluruh senjata impor milik TNI dapat dipelihara secara mandiri. (SIPRI Fact Sheet, 2020)

Referensi
Airforce Technology. Su-35 Flanker-E Multirole Fighter. https://www.airforce-technology.com/projects/su-35/. Diakses pada 25 Maret 2021


Ajinugroho, S. "Tidak Selalu Tepat, Indonesia Bisa Kena Problem Serius Jika Beli Jet Tempur Rafale dari Prancis." Sosok.id, 30 Januari 2020. https://sosok.grid.id/read/412004782/tidak-selalu-tepat-indonesia-bisa-kena-problem-serius-jika-beli-jet-tempur-rafale-dari-prancis?page=all. Diakses pada 20 Mei 2021


CNN Indonesia. "CAATSA, Jurus AS Halangi Peminat Alutsista Rusia." CNN Indonesia, 22 Januari 2020. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200122064416-106-467483/caatsa-jurus-as-halangi-peminat-alutsista-rusia. Diakses pada 20 Mei 2021


DefenseWorld.net. Russian Su-35 Jet Not Mentioned in Indonesian Air Force Purchase Plan. https://www.defenseworld.net/news/29036/Russian_Su_35_Jet_Not_Mentioned_in_Indonesian_Air_Force_Purchase_Plan#.YI9H2rUzbIU. Diakses pada 1 Mei 2021


Irawan, G.. "TNI AU Berhasil Upgrade 2 Jet Tempur F-16: Mulai Avionik hingga Bisa Tembakkan Rudal AMRAAM", 28 Agustus 2020. https://www.tribunnews.com/nasional/2020/08/28/tni-au-berhasil-upgrade-2-jet-tempur-f-16-mulai-avionik-hingga-bisa-tembakkan-rudal-amraam. Diakses pada 20 Mei 2021


Kementerian Pertahanan RI. Kebijakan Penyelarasan Minimum Essential Force Komponen Utama. Diambil kembali dari Kementerian Pertahanan RI. Lihat artikel PDF. Diakses pada 5 Mei 2021.


Marbun, J.. "Defense Ministry to replace aging F-5 Tiger fighter aircraft." REPUBLIKA, 4 Januari 2014. https://www.republika.co.id/berita/mz123c/defense-ministry-to-replace-aging-f5-tiger-fighter-aircraft. Diakses pada 20 Mei 2021


Pakistan Defence. Types of Cost for Military Fighters. Pakistan Defence. https://defence.pk/pdf/threads/cost-of-buying-operating-fighters.84507/. Diakses pada 21 Maret 2021


Parameswaran, P.. "New Upgraded Su-30 Aircraft Delivery Highlights Indonesia Air Force Capabilities." THE DIPLOMAT, 20 Agustus 2019. https://thediplomat.com/2019/08/new-upgraded-su-30-aircraft-delivery-highlights-indonesia-air-force-capabilities/. Diakses pada 20 Mei 2021


Purwanto, A.. "Industri Pertahanan: Sejarah, Perkembangan, dan Tantangan". KOMPASPEDIA, 4 Oktober 2020, https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/industri-pertahanan-sejarah-perkembangan-dan-tantangan. Diakses pada 20 Mei 2021


RSIS Policy Report. 2014. "Rethinking TNI AU's Arm Procurement: A Long-range Projection." Rajaratnam School of International Studies, 8-10. Lihat artikel PDF

Sandi, F.. "RI Tinggalkan Sukhoi Beralih ke F-15 & Rafale: Ini Alasannya?" CNBC Indonesia, 24 Februari 2021, https://www.cnbcindonesia.com/news/20210224183544-4-225947/ri-tinggalkan-sukhoi-beralih-ke-f-15-rafale-ini-alasannya. Diakses pada 20 Mei 2021


SIPRI Fact Sheet. (2020). Trend in World Military Expenditure. Stockholm: Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Lihat artikel PDF


Tribun-Bali.com. "Garang di Langit, Biaya Operasional Jet Tempur Sukhoi TNI AU Fantastis Setara Harga Mobil Ini." Tribun-Bali.Com, 2 Mei 2018. https://bali.tribunnews.com/2018/05/02/garang-di-langit-biaya-operasional-jet-tempur-sukhoi-tni-au-fantastis-setara-harga-mobil-ini?page=4. Diakses pada 20 Mei 2021


Wiyanti, S.. "Urusan jet tempur, lebih baik beli buatan Rusia atau Amerika?" Merdeka.Com, 25 Juni 2015, https://www.merdeka.com/peristiwa/urusan-jet-tempur-lebih-baik-beli-buatan-amerika-atau-rusia.html. Diakses pada 20 Mei 2021


Penulis: Arif Sulistiobudi (Mahasiswa S1 Hubungan Internasional FISIP Universitas Sebelas Maret)

Email: tioyo29@outlook.com

Editor: Tim hubunganinternasional.id


About The Author

Comments

Comment has been disabled.