Agama dan Kajian Hubungan Internasional

  • Oct 13, 2020
  • /
  • Buku
  • /
  • Admin
  • 402

Profil Buku

Judul: Agama dan Kajian Hubungan Internasional
Penulis: Drs. Achmad Djatmiko, MA
Penerbit: Penerbit ANDI dan Universitas AMIKOM Yogyakarta
Tahun: 2019


HubunganInternasional.id (hi.id): apa yang melatarbelakangi penulisan buku ini?

Drs. Achmad Djatmiko, MA (A.D): Secara pribadi, saya ingin memberikan kontribusi terhadap khasanah kajian hubungan internasional (HI). Saya merasa bahwa berbagai literatur dan pendekatan dalam kajian HI yang selama ini berlaku dan dipejajari dunia akademik maupun khalayak terkesan tidak membumi, melayang-layang di awan. Fenomena, sejarah dan teori yang barlatar belakang dunia Timur (Asia), termasuk agama (religi) sangat jarang diungkap, apalagi dijadikan rujukan.

Sejak kelahiran HI sebagai disiplin ilmu tersendiri di Barat, agama tidak pernah dipertimbangan sebagai objek kajian. Agama dikucilkan, dipinggirkan, bahkan diasingkan dalam teori HI Barat. Pengasingan agama ini dapat dirunut pada sejarah lahirnya teori HI itu sendiri. Dalam sistem Westphalia, kajian HI dikembangkan pada akhir perang Eropa, yang kemudian melahirkan konsep negara-bangsa (nationstate), mengagungkan kedaulatan nasional sehingga agama tidak lagi diberi tempat semestinya.

Dalam teori HI yang fokus kajiannya pada negara (state-centered) dalam bingkai suatu sistem internasional, maka sangat wajar jika agama dianggap tidak memiliki andil.

Hi.id: Apa urgensi memasukkan agama dalam kajian Hubungan Internasional?


A.D: Dalam tradisi kajian HI, dan juga ilmu sosial pada umumnya, agama memang tidak pernah mendapatkan perhatian sebagai faktor penting ataupun variabel analisis karena dianggap tidak memiliki peran dan dampak terhadap kehidupan masyarakat, apalagi hubungan antar negara. Ini dapat difahami karena para pakar ilmu sosial dan filsuf terkemuka dunia Barat di Abad ke-18 hingga awal Abad ke-20 seperti Comte, Durkheim, Freud, Marx, Nietzsche, Voltaire dan Weber, telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu sosial, dengan kesamaan pandangan bahwa hadirnya masa Pencerahan (enlightenment) akan memusnahkan agama sebagai landasan pemikiran dan pengaturan dunia. Dalam teori HI yang fokus kajiannya pada negara (state-centered) dalam bingkai suatu sistem internasional, agama dianggap tidak memiliki andil.


Selama lebih dari dua dasawarsa terakhir ini kajian HI dihadapkan pada sebuah fenomena global yaitu kebangkitan kembali agama (global resurgence). Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi logika sekularisme yang telah mendominasi kajian HI. Fenomena ini dapat menjadi momentum bagi para pengamat dan pecinta HI untuk berkontribusi mengenai arti pentingnya agama sebagai bahan variable HI. Kebangkitan global agama ini membawa serta kecenderungan desekularisasi dunia. Tragedi serangan 11 September 2001, misalnya, telah merubah cara pandang masyarakat terhadap agama dan isu-isu internasional. Atas dasar inilah agama diibaratkan telah kembali dari “pengasingan Westphalia” ke panggung utama dunia. Agama tidak lagi hanya dipandang sebagai “kelanjutan politik dengan cara yang lain (a continuation of politics by other means), tetapi juga telah menjadi sumber konflik para pemain di panggung internasional. Tantangan teoritis dari kebangkitan global agama ini bagi kajian HI sangat urgen untuk dijawab,

Hi.id: Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari kebangkitan kembali Agama secara global?


A.D: Terlihat jelas bahwa kebangkitan agama telah menyadarkan para pemerhati hubungan internasional bahwa selama ini agama telah dimarginalkan dalam kajian HI dan politik khususnya serta ilmu sosial pada umumnya. Bahwa dalam perkembangannya keberadaan agama tidak mungkin lagi dikesampingkan sebagaimana yang telah terjadi selama ini.


Dari beberapa literatur mengenai agama dan politik global, belum didapatkan kesepakatan ataupun strategi teoritis yang mapan untuk memahami keberadaan agama. Teori HI memberikan informasi yang sangat sedikit kepada siapa yang ingin memahami interaksi agama dan politik di panggung global. Sangat disayangkan bahwa perkembangan konseptual dan teoritis saat ini pun tetap masih berada pada tataran yang sama, agama diposisikan terkucil dalam kajian HI.


Demikian pula, sejalan dampak kebangkitan agama, kini telah muncul beragam pandangan mengenai teori agama, budaya dan sekularisasi. Pertanyaan mengenai kaitan faktor agama dengan Peristiwa 9/11 pun akhirnya menjadi topik pemicu yang kemudian semakin menarik untuk terus diperbincangkan.

Image: Achmad Djatmiko


Hi.id: Di buku ini anda menyinggung tentang westphalian presumption. Bagaimana tanggapan anda tentang Westphalian Presumption dan relevansinya dalam Hubungan Internasional kontemporer?


A.D: Dalam kajian HI diyakini bahwa sekularisasi (privatisasi dan marginalisasi kepercayaan agama) adalah senjata utama untuk merealisasikan lahirnya politik internasional modern, yang oleh Scott diistilahkan sebagai “Westphalian presumption” atau “Anggapan Westphalia”,


Westphalian presumption yaitu suatu gagasan bahwa budaya dan pluralisme agama tidak boleh berada di ranah publik karena akan menimbulkan konflik dengan tatanan international. Agama perlu diprivatisasi dengan cara dilembagakan, yang oleh Charles Taylor disebut sebagai etika bebas sekuler (secular independent ethics). Sistem Westphalia telah menetapkan sekularisme sebagai kode genetik dalam disiplin HI. Tujuannya untuk mengalihkan sekularisme kedalam suatu kondisi yang memungkinkan HI berkembang, daripada menjadi sebuah obyek dari penelitian.


HI.id: Apa hal yang ingin anda sampaikan pada masyarakat melalui karya anda ini?


A.D: Beragam bahasan mengenai kebangkitan global agama dan sejauhmana dampaknya terhadap kajian poltik dan HI dapat menyadarkan kita bahwa agama sebagai suatu yang melekat dengan diri kita, pasti ada dan dimiliki dalam kehidupan individu setiap hari, keberadaannya, secara ilmiah, justeru dipertanyakan. Ternyata, kita tidak bisa mengatakana bahwa agama dianggap sebagai pasti ada dan berperan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti apakah bentuknya, dan bagaimana peran yang dimainkan agama dalam politik dan hubungan internasional sesungguhnya belum dapat diformulasikan dengan jelas karema belum dirumuskan dan disepakati secara ilmiah.

HI.id: Apakah anda berkenan untuk dihubungi berkaitan dengan buku ini?

A.D: Ya. Bisa dihubungi ke adjatmiko63@gmail.com

HI.id: Terima kasih atas jawaban yang diberikan. Kami berharap agar karya anda dapat berkontribusi pada masyarakat luas khususnya penstudi Hubungan Internasional.


About The Author

Comments

Comment has been disabled.