Kembalinya Hip-Hop Sebagai Kultur Gerakan Sosial

  • Sep 2, 2020
  • /
  • Opini
  • /
  • Admin
  • 361

Penulis: Rian Panca Kesuma

(Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta)

Editor: V.S, A.D

Musik Hip-Hop atau lebih dikenal dengan musik Rap, merupakan genre musik yang lahir di Amerika oleh perpaduan multikulturalisme antara keturunan African-American disana. Awalnya genre musik Rap hadir sebagai sarana minortitas mendapatkan tempat untuk bersuara di ruang publik. Perlu diketahui bahwa pada kala itu bahkan sampai sekarang, praktik Colorism di Amerika Serikat masih sedikit banyak terasa. Colorism atau Shadeism, diartikan sebagai istilah pengelompokan golongan dalam kelas tertentu berdasarkan prasangka atau anggapan terhadap warna kulit (Jones, 2000: 1448- 1556).

Praktik Colorism di Amerika Serikat dipengaruhi oleh sejarah perbudakan yang diperkirakan berlangsung sekitar 400 tahun. Dahulu bangsa penjajah datang ke benua Amerika dengan membawa budak yang Sebagian besar berasal dari Afrika. Budak yang umumnya memiliki kulit berwarna ‘Hitam’ diperbudak dengan kerja paksa guna membangun kejayan negara dalam pengembangan pasar dan ekonomi. Hallease ‘seorang Creative Director’ yang juga fokus kepada sejarah dan budaya kulit hitam beropini “We cannot run a capitalist society without free, forced or cheap labor." Untuk menggambarkan bagaimana praktik perbudakan yang pernah terjadi di Amerika (Hallease, 2020).

Perilaku diskriminasi pada kulit hitam juga kerap kali tersirat dalam pop culture yang berasal dari negara Amerika Serikat sendiri, seperti dalam beberapa film. Sebut saja dalam serial Marvel berjudul “Cloak and Dagger” yang menggambarkan seorang anak laki-laki berkulit hitam kemudian mendapatkan banyak masalah dan menjadi pahlawan super setelah bersekutu dengan anak perempuan berkulit putih. Film lain yang juga popular berjudul “13th” oleh Ava DuVernay yang diproduksi Netflix, film ini menceritakan tentang amandemen negara Amerika Serikat ke 13 dan ke 14 yang dinilai timpang satu sama lainnya. Amandemen 14 dianggap bernada pembebasan budak sedangkan 13 dianggap justru memberika celah untuk perbudakan baru tetap berlangsung, contoh dari anggapan timpangnya amandemen ini adalah praktik pencabutan hak suara kaum kulit hitam jika melakukan tindakan kriminal.

Image: Source

Resah akan ketimpangan atau kesetaraan sosial yang masih terasa, musik Rap kemudian hadir dengan nada-nada “perjuangan” yang menyindir diskriminasi, subordinitas, perilaku rasial terhadap minoritas mencakup agama dan warna kulit. Sebut saja nama-nama besar seperti Public Enemy, Wu- tang Clan, dan Snoop Dog yang merupakan pioneer dari berbagai generasi perintis Hip-Hop dengan karya mereka yang seakan menjadi sindirian dan watch dog bagi pemerintah. Masa keemasan Rap sempat dianggap pudar pada 10 tahun terakhir dengan menurunnya nada-nada perjuangan yang tersirat dalam lagu-lagu yang sedang trend. Kemunculan pendatang seperti Lil Pump dengan “Gucci Gang” atau Lil Purp dengan “Audy” yang lebih identik dengan kebiasaan flexing atau pamer dibandingkan dengan menyuarakan keadilan semakin menguatkan anggapan ini.

Contoh lain adalah ketika, Kanye West seorang rapper kulit hitam yang sempat menuai kontroversi dengan “slavery for 400 years for 400 years that sound like a choice.” Ketika ditanya pendapatnya tentang isu rasialisme dan perbudakan (West, 2018). Meski begitu, Hip-Hop tetap memiliki potensi untuk merubah kondisi sosial masyarakat. Hip-Hop saat ini merupakan genre musik paling popular di Amerika Serikat, sehingga pesan – pesan perjuangan yang disampaikan melalui music Hip-Hop akan mencapai kalangan yang lebih luas, dan berpotensi memiliki dampak yang lebih besar (DJ Booth, 2019).

Meski secara umum penulis tetap berpegang teguh bahwa skema Hip-Hop sedang mengalami pergeseran nilai, namun “api perjuangan” Hip-Hop itu sendiri tidak pernah padam seutuhnya. Hip-Hop masih memiliki beberapa artis yang terus menyuarakan perjuangan terhadap otoritas, maupun fabrikasi budaya yang menindas kaum minoritas, terutama people of color. Jay-Z contohnya, dalam lagu “The Story of O.J.” beliau banyak mengkritik pergeseran budaya Amerika yang membuat etnis African-American terpecah dalam mencapai puncak strata sosial. Jay-Z mengkritik kurangnya persatuan dalam etnis African-American itu sendiri dalam menghadapi lingkungan sosial yang tidak pernah berhenti mendiskreditkan mereka sebagai people of color.

Artis lainnya seperti Childish Gambino dalam lagunya “This is America” juga mengkritik kondisi sosial di Amerika Serikat yang digambarkan sudah seperti medan perang yang berbahaya, secara eksplisit beliau menggambarkan kondisi tersebut dengan beberapa adegan penembakan yang mewakilkan beberapa kejadian penembakan massal yang terjadi di Amerika Serikat. Childish Gambino juga mengkritisi bagaimana media kemudian digunakan sebagai alat untuk mengalihkan perhatian kita dari isu sebenarnya yang seharusnya menjadi perbincangan, salah satunya adalah diskriminasi terhadap people of color.

Video: Source

Pengaruh musik Hip-Hop instrumen perjuangan kaum minoritas tidak hanya terasa di Amerika Serikat yang merupakan asal genre music tersebut. Indonesia contohnya, juga menunjukkan riak Hip-Hop yang cukup besar sebagai musik perjuangan. Artis seperti Zoonde dengan lagunya “Poetry From Ghetto” menjadi contoh menarik mengenai perspektif pemuda Papua dalam melihat diskriminasi dan ketimpangan yang dirasakan Papua sejak integrasinya ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1 Mei 1963. Peristiwa seperti penyerangan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16-17 Agustus 2019 juga tidak lepas dari kritikan para musisi Hip-Hop, dengan artis seperti Oncho FLash dan Andho Aibah yang mengutuk keras perbuatan tersebut melalui lagu mereka yang berjudul “Usir Papua???”.

Di Tahun 2020 terdapat peristiwa yang kembali menjadi momentum bangkitnya kultur Hip-Hop sebagai gerakan masyarakat sipil global menyuarakan isu rasial dan minoritas. Peristiwa kematian George Floyd yang disebabkan oleh anggota kepolisian Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat yang kebetulan berkulit putih seakan membuka tabir bahwa masalah rasial dan minoritas masih terjadi. Tagar Black Lives Matter kemudian menghiasi media sosial internet sebagai bentuk simpati masyarakat sipil global terhadap apa yang menimpa Floyd. Keikutsertaan penyanyi Rap muda seperti Dax dengan “BLACK LIVES MATTER” dan Lil Baby dengan “The Bigger Picture” menyiratkan kebangkitan kultur rap sebagai “New Social Movement” sebagai sarana menyuarakan isu rasial dan minoritas di dunia. Meski penulis tidak menemukan dokumentasi mengenai keikutsertaan para musisi tersebut dalam mengorganisir gerakan protes tersebut, tetapi keikutsertaan mereka menunjukkan solidaritas, dan juga masih hidupnya “api perjuangan” dari music Hip-Hop dalam melawan ketidakadilan dalam masyarakat. Semoga gerakan tersebut mendorong dunia menjadi lebih baik.

Penulis: Rian Panca Kesuma


Referensi

DJ Booth (2019). "Hip-Hop Is America’s Biggest Genre. What Happens When We Enter 2020?" [Online]. Available at: https://djbooth.net/features/2019-09-23-how-does-hip-hop-progress-in-the-2020s [Accessed: August 2020].

Jones, Trina. (2000) “Shades of Brown: The Law of Skin Color”. Duke Law School, Public Law Working Paper No. 7. Available at: https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=233850

Lil Baby (2020). The Bigger Picture (Official Music Video) [Online]. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=_VDGysJGNoI [Accessed: August 2020].

Hallease (2020). Interviewed by Gita Savitri Devi for Gita Savitri Devi Beropini. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=ojOq3ylvi3s&list=PLGlaBPlOdBH8kTghPwd4WTtdtrJWS aejh&index=57 (Accessed: July 2020).

West, Kanye. (2018) Interviewed by Harvey Robert Levin for TMZ. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=s_M4LkYra5k (Accessed: July 2020).


About The Author

Comments

Comment has been disabled.