May 30, 2020
  • Hubungan Internasional
  • 081226993704
  • -

Gerakan Radikalisme Islam sebagai Tantangan Diplomasi Indonesia

  • Opini
  • Oct 28, 2019
  • 452

Penulis: Pradipta Chandra Kusuma (Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret)
Editor: Virtuous Setyaka

 

Indonesia merupakan negara yang memiliki karakteristik penduduk yang bersifat pluralistik. Bermacam-macam suku, ras, dan agaman berada di negara yang dijuluki surga dunia ini. Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan khas dari Indonesia dimana menjunjung makna keberagaman, persatuan, dan kesatuan. Beberapa waktu yang lalu terdapat sebuah tulisan yang sempat menggemparkan media sosial Indonesia. Tulisan tersebut merupakan sebuah pesan perpisahan yang di tulis oleh Moazzam Malik di laman Kompas mengenai ceritanya selama bertugas di Indonesia. Pesan Moazzam Malik dianggap sangat realistis dalam menanggapi kondisi Indonesia pada akhir-akhir ini.
Moazzam Malik merupakan seorang Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN periode 2014-2019. Moazzam Malik menulis sebuah tulisan berjudul ”Surat Perpisahan untuk Indonesia”. Betapa terkejutnya saya salah satu pengagum Moazzam Malik di Indonesia yang ternyata baru menyadari bahwa masa jabatan Moazzam Malik berakhir pada pertengahan tahun 2019.

 

Seketika saya membaca isi tulisan surat yang ditulis oleh Moazzam Malik megenai pengalaman beliau selama menjabat sebagai Duta Besar di Indonesia. Beliau sangat kagum dengan keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia, masyarakat Indonesia yang begitu ramah membuat beliau berkesan selama berada di Indonesia, bahkan kekaguman beliau terhadap kemajuan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi juga beliau tulis dalam surat tersebut. Moazzam Malik dalam suratnya tersebut juga menitipkan sebuah pesan yang salah satunya adalah melindungi kaum minoritas yang berada di Indonesia. Pesan Moazzam Malik tersebut seketika mengingatkan kembali kepada saya mengenai kondisi politik di Indonesia saat ini.

 

Image: http://www.salampapua.com/2018/05/teroris-di-mimika-rakyat-jangan-takut.html


Seperti yang diketahui bahwa mayoritas masyarakat Indonesia merupakan pemeluk agama islam. Bahkan Presiden Jokowi sering sekali memberikan pernyataan di dalam pidatonya di Indonesia maupun di dunia Internasional bahwa Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Presiden Jokowi selalu menceritakan bahwa islam yang berada di Indonesia adalah islam moderat. Dimana islam moderat sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dan nasionalisme. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa di Indonesia sendiri masih terdapat kelompok-kelompok islam yang radikal.


Pasca era orde baru yaitu era reformasi, jalur-jalur demokrasi dibuka seluas-luasnya bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam berbagai proses politik secara sukarela. Era reformasi juga memasuki babakan baru dengan mendatangkan liberalisasi politik. Pada era reformasi ini, partai-partai islam mulai bangkit lagi di panggung perpolitikan Indonesia. Tidak hanya itu, pada era reformasi, Indonesia menjadi sebuah “sasaran empuk” bagi ideologi-ideologi baru yang mana salah satu diantaranya adalah ideologi islam radikal yang terus berkembang.


Berkembangnya kelompok-kelompok islam radikal di Indonesia tentu saja menjadi sebuah ancaman bagi kehidupan Indonesia, tidak hanya dalam kehidupan politik domestik namun politik luar negeri juga dapat terancam. Kehadiran gerakan islam radikal di Indonesia dapat mencoreng citra Indonesia di mata dunia internasional. Hal ini dikarenakan doktrin dan ajaran yang dibawa oleh kelompok gerakan islam radikal tidak sesuai dengan ajaran nilai dan norma Pancasila. Seperti yang diketahui bahwa salah satu doktrin yang dibawa oleh ajaran islam radikan adalah tidak membenarkan dan tidak menghormati ajaran agama atau kepercayaan lain. Sehingga kehadiran kelompok islam radikal di Indonesia dapat meningkatkan tensi intoleransi yang ada di Indonesia.  


Pemerintah Indonesia telah berupaya membangun citra baiknya di dunia internasional dengan membangun Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menjujung tinggi nilai toleransi dengan islam moderat yang dimilikinya. Selain itu keaktifan Indonesia dalam dunia internasional dimana telah beberapa kali berhasil menjadi penengah dalam konflik identitas di suatu negara seperti halnya di Myanmar dan Afghanistan. Upaya Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina juga diapresiasi oleh dunia internasional sehingga Indonesia dapat terpilih sebagai anggota Dewan Keamanan Tidak Tetap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


Upaya-upaya Pemerintah Indonesia diatas dalam rangka untuk membangun citra Bangsa Indonesia di dunia internasional dapat tercoreng dengan kondisi domestik Indonesia dimana nilai toleransi sedang dalam masa krisis. Gerakan islam radikal yang sedang terus berupaya mengembangkan ajarannya di Indonesia dapat memicu meningkatnya intoleransi antar masyarakat Indonesia. Adanya upaya mendirikan negara khilafah oleh Hizbut Tahrir Indonsia (HTI) merupakan salah satu bukti bahwa wajah islam di Indonesia saat ini tidak hanya wajah islam yang moderat.

 

Image: Pradipta Chandra Kusuma


Perlu diketahui bahwa pendekatan islam moderat merupakan pendekatan yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia dalam melakukan diplomasi. Ditengah-tengah isu internasional yang meragukan kredibelitas islam atau bahkan beberapa negara mengatakan bahwa islam adalah teroris. Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat mayoritas pemeluk islam dengan tegas menyerukan ke dunia internasional bahwa islam yang ada di Indonesia adalah islam moderat bukan islam radikal. Oleh karena itu kehadiran gerakan islam radikal di Indonesia tentu saja dapat dijadikan sebuah tantangan pada diplomasi Indonesia.


Gerakan islam radikal di Indonesia yang sudah saya sampaikan sebelumnya dapat mencoreng citra Bangsa Indonesia di dunia internasional. Oleh karena itu, apabila kondisi domestik Indonesia terus-terusan seperti ini dimana nilai toleransi antar masyarakat menurun maka kredibelitas Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi untuk menciptakan perdamaian dunia melalui ajaran islam moderat Indonesia yang di bawa oleh Pemerintah Indonesia sebagai sarana diplomasi Indonesia akan dipertanyakan. Maka kepercayaan yang telah dibangun oleh dunia internasional mengenai toleransi dan islam moderat yang ditawarkan oleh Indonesia di dunia internasional akan menurun. Hal ini tentu saja menjadi sebuah tantangan bagi Pemerintah Indoensia untuk terus berupaya menjaga kestabilan kehidupan bernegara masyarakan Indonesia di dalam negeri. Oleh karena itu sangat penting bagi masyarakat Indonesia untuk lebih memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari. Hal ini tentu saja dapat sebagai bentuk dukungan masyarakat kepada Pemerintah Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri di dunia internasional. Karena diplomasi merupakan hal terpenting dalam menjalankan politik luar negeri, sehingga Pemerintah Indonesia dapat menjalankan politik luar negerinya dengan baik untuk menciptakan perdamain dunia dan membangun Indonesia lebih baik lagi di kancah internasional

 

 

  • Tags
  • Penulis : Admin
  • Deskripsi :
comments powered by Disqus