Oct 19, 2019
  • Hubungan Internasional
  • 081226993704
  • -

Ambruknya Kredibilitas Demokrasi

  • Jendela Buku HI
  • Sep 23, 2019
  • 118

Profil Buku

Judul Buku: Ambruknya Kredibilitas Demokrasi

Penulis: Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A

Penerbit: Pustaka Pelajar

Tahun: 2019

 

Image: HubunganInternasional.id

 

Hubunganinternasional.id (HI.id): Apa yang menjadi latar belakang anda menulis buku “Ambruknya Kredibilitas Demokrasi”?

 

Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A (B.C):  Saya mengajar mata kuliah demokrasi sepulang ambil Master di Ohio State University tahun 1990. Jadi sejak 1991 saya sudah mengajar demokrasi dan meperbaiki bahan kuliah sesuai perkembangan yang terjadi. Sekitar tahun 2003 saya terbitkan buku Presiden, Partai dan Pemulihan Ekonomi Indonesia, UII Press.

 

Ini buku teks pertama untuk mata kulaih demokrasi. Karena berbagai kesibukan di berbagai posisi manajemen universitas saya kehilangan kesempatan membuat buku teks yang baru. Setelah selesai dengan urusan manajemen saya segera menengok kembali ke perkembangan demokrasi. Saya terkejut ternyata landskap demokrasi internasional mengalami perubahan-perubahan luar biasa.

 

Buku teks sekaligus referensi yang baru ini saya susun dengan tujuan menggugah kesadaran generasi muda tentang perubahan-perubahan luar biasa yang sedang berlangsung di berbagai belahan dunia saat ini.

 

HI.id: Di dalam buku anda menyebutkan bahwa ambruknya kredibilitas demokrasi diikuti dengan kebangkitan fasisme di Amerika. Bagaimana anda menjelaskan hal ini?

 

B.C: Banyak pengamat politik di Amerika yang menilai bahwa Trump adalah presiden Amerika pertama yang menunjukkan sikap anti-demokrasi bahkan cenderung menjadi fasistik. Trump lah yang mengusung gagasan nasionalisme ekstrim dengan menekankan America First. Kebijakan luar negeri diarahkan semata-mata hanya untuk kepentingan Amerika semata-mata walaupun tidak rasional sekalipun.

 

Trump juga dikenal luas sebagai pemuja individu yang kuat. Dia bangga dengan kebijakan Duterte, Recep Erdogan orang-orang kuat di negeri lain. Trump juga dikenal rasis karena membenci orang-orang negara-negara Islam, Amerika Latin, keturunan Afrika di Amerika. Bahkan sejak terpilih sebagai presiden banyak keturunan tergoncang karena Trump secara terbuka mengusung kesombongan white supremacy, bahkan imigran Amerika Tengah disebutnya sebaga gerombolan kriminal yg akan menyerbu Amerika.

 

HI.id: Politik Luar Negeri adalah cerminan dari politik domestik. Apakah perubahan politik luar negeri Amerika Serikat juga merupakan “efek samping” dari otoritarian yang berkembang di dalam tubuh Amerika Serikat?

 

B.C: Semangat America First atau semangat nasionalisme ekstrem sangat kuat mempengaruhi proses pembuatan politik luar negeri Amerika semenjak Trump menduduki Gedung Putih. Keinginan Trump menciptakan kemakmuran bagi buruh kulit putih yang banyak menganggur dan gajinya mengalami stagnasi membuat Trump hanya memikirkan keuntungan Amerika setiap kali meluncurkan kebijakan ekonomi luar negeri. Kebijakan menarik diri dari Perjanjian Paris, dari TPP (Trans Pacific Partnership), perang dagang dengan China semua itu bertujuan bagaimana Amerika mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin bagi bangsa Amerika mengingat defisit neraca dagang dengan China dan Eropa yang sangat besar.

 

Image: Prof. Bambang Cipto

 

HI.id: Trump terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat melalui cara-cara yang demokratis terlepas dari kebijakan kontroversial (atau sebut saja otoriter) yang dia ambil baik di domestik maupun internasional. Secara sederhana dapat dikatakan, otoritarian di Amerika Serikat dilahirkan melalui proses demokrasi dan Trump adalah produk otoriter dari sebuah proses demokrasi tersebut. Dengan kata lain, kondisi Amerika Serikat saat ini adalah cerminan dari keinginan masyarakatnya sendiri. Apakah anda menganggap hal ini sebagai ambruknya kredibilitas demokrasi? Bagaimana pendapat anda?

 

B.C: Ambrunyaknya kredibilitas demokrasi terjadi disebabkan kompleksitas permasalahan yang menghadang kelangsungan demokrasi Amerika saat ini. Faktor-faktor itu adalah:

 

(1) Ketimpangan pendapatan yang luar biasa di Amerika dan sampai tingkat tertentu di Eropa. tahun 2018 ada sekitar 33 perusahaan besar yang menggaji CEO-nya 1000 kali gaji buruh. Padahal selama 40 tahun terakhir gaji buruh mengalami stagnasi alias tidak pernah mengalami kenaikan

 

(2) Globalisasi ternyata menyebabkah penumpukan kekayan dikalangan elit semata-mata dan mengabaikan sama sekali nasib buruh

 

(3) Kepercayaan publik terhadap para elit turun hingga dibawah 50% karena mereka dianggap tak mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyat di negara-negara Barat

 

(4) Kepercayaan milenial terhadap demokrasi benar-benar merosot tajam. Mereka lebih memilih kepemimpinan militer daripada sipil yang mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. Mereka lebih bangga dengan Xi Jinping walaupun pemimpin China namun mampu meningkatkan kesejahtaraan rakyatya

 

(5) Kapitalisme ikut membunuh demokrasi dari dalam. Saat ini 10% orang Amerika menguasai 70% kekayaan nasional. Akibatnya rakyat jelata benar-benar di Amerika terlupakan bagai orang-orang negara berkembang yang hidup segan matipun tak mau padahal mereka penduduk negara kaya raya.

 

HI.id: Kredibilitas demokrasi negara-negara barat seperti Amerika Serikat dan Eropa sebagai “guru” sekaligus “kiblat” demokrasi bagi negara berkembang justru mengalami kemerosotan sebagaimana klaim anda dalam buku ini. Lalu bagaimana anda melihat demokrasi di negara berkembang seperti Indonesia? Apakah hal ini juga bisa terjadi?

 

B.C: Kebijakan luar negeri Trump sudah tidak lagi menjadikan demokrasi sebagai salah satu tema sentral. Dengan kata lain saat ini tak ada lagi polisi dunia yang mengawasi pertumbuhan dan perkembangan demokrasi sebagaimana diinginkan Amerika sejak 1990 hingga 2016. Ini dapat diartikan tak ada lagi negara besar sebesar dan sekuat Amerika yang mengawasi jalannya demokrasi di negara-negara berkembang.

 

Akibatnya negara-negara berkembang seret perkembangan demokrasi justru merasa beruntung. Karena sekarang sekalipun mereka melupakan demokrasi dan menjadi semakin tertutup atau semakin otoriter tak ada lagi negara Barat yang akan menghalangi proyek politik mereka. Inilah resiko global ketika demokrasi Amerika mengalami krisis mendalam.  

 

HI.id: Apakah anda berkenan dihubungi jika ada yang ingin bertanya terkait buku ini?

 

B.C: Boleh silahkan saja bcipto2000@gmail.com

 

HI.id: Terima kasih atas kebersediaan anda menjawab pertanyaan dari kami. Semoga buku karya anda dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

 

  • Penulis : Admin
  • Deskripsi :
comments powered by Disqus