Oct 19, 2019
  • Hubungan Internasional
  • 081226993704
  • -

Indonesia dan Keamanan Kontemporer di Asia Tenggara

  • Jendela Buku HI
  • Jun 30, 2019
  • 375

Profil Buku

Judul Buku: Indonesia dan Keamanan Kontemporer di Asia Tenggara
Penulis: La Ode Muhammad Fathun dan Yugolastarob Komeini
Penerbit: Suluh Media
Tahun: 2018
Link Pemesanan: (klik di sini)

 

Image: grahailmu.id/product/indonesia-dan-keamanan-kontemporer-di-asia-tenggara/

 


Hubunganinternasional.id (HI.id): Apa yang menjadi latar belakang anda menulis buku Indonesia dan Keamanan Kontemporer di Asia Tenggara?

 

La Ode Muhammad Fathun (LOMF): Menurut saya kita harus pahami dulu apa itu geopilitik. Geopolitik merupakan representasi dari dua hal yakni physical feature dan political behaviour. Kebijakan geopolitik suatu negara datang dqri pemaknaan lokasi atau bentuk negaranya.  Dalam kaidah geopolitik ada banyak bentuk negara salah satunya adalah Costal state dan archipilago state. Di Asia Tenggara kondisi geopilitik bervariasi. Kalau kita maknai geopolitik ini adalah wilayah laut maka kita menggunakan mahzab blue school. Hal yang harus diperhatikan  dalam pemaknaan geopolitik adalah Postur, Kultur dan struktur. Mengukur juga variabel ini di Asia Tenggara dalam konteks postur maka ada beberapa negara yang merupakan negara kepulauan dan negara pantai. Konsekuensinya adalah perumusan kebijakan luar negeri. Memang benar hak dan kewajiban negara pulau dan negara pantai berbeda namun orientasinya dalam yakni mengelola laut, mengontrol laut dan menjaga laut.

 

Di Asia Tenggara dalam variabel ini terjadi perbedaan makna konsekuensinya adalah konflik yang terjadi di Asia Tenggara sudah menua terkhusus wilayah laut. Konflik yang terjadi di antara sesama negara diwilayah Asia tenggara misalnya Indonesia Malaysia, Indonesia Singapura, dan beberapa konflik lain adalah tantangan geopolitik maritim di Asia Tenggara. Konsekuensi lainya adalah pemkanaan dalam postur sebagai negara kepualauan dan negara pantai menimbulkan juga konflik inter regional dimana melibatkan Tiongkok di wilayah Laut Tiongkok Selatan dengan negara- negara Asia Tenggara. Lebih lanjut, konflik yang melibatkan aktor di luar kawasan Asia Tenggara seperti AS dan Rusia. Asia Tenggara menjadi wilayah yang menarik untuk di perebutkan dan dikuasai. Satu pendapat dalam blue school adalah siapa yang menguasai Asia Pasifik kedepan maka akan menguasai dunia. Namun menarikanya bercerita tentang faktor kedua yakni kultur, karakter negara Asia Tenggara selalau mengutamakan logika harmonisasi dalam penyelesaian masalah.

 

Asia Tenggara yang secara kultur juga banyak didiami oleh orang-orang melayu, dimana orang melayu selalu menggunakan berkomunikasi dengan hati. Akibatnya setiap masalah di Asia Tenggara selalu menggunakan penedekatan komunikasi, negosiasi yang masuk dalam strategi Diplomacy activities. Selain itu dalam konteks struktur yang selalu bernuansa kebijakan negara-negara Asia Tenggara selalu menggunakan logika harmoniasi atau logika kesesuaian sehingga kebijakan yang lahir dari setiap negara terutama konflik geopolitik selalu diselesaikan baik konteks bilateral maupun regional. Namun saat ini ASEAN terlalu fokus penyelesaain konflik tersebut dalam forum-forum seperti ASEAN Regional Forum (ARF) padahal Asia Tenggara yang kemudian dikatakan sebagai ASEAN memiliki Asean Institute of Peace and reconciliation (AIPR).


(HI.id): Menurut pendapat anda, bagaimana kondisi geopolitik di Asia Tenggara saat ini?

 

(LOMF): Menurut saya Indonesia adalah negara yang memiliki logika pengambilan kebijakan yang harmonis. Barangkali ini sudah menjadi amanat konstitusi terkusus UU/37/1999 tentang hubungan luar negeri yang menyebutkan politik luar negeri Indonesia ditempuh melalui diplomasi. Saya fikir sebagai negara dengan karakter friendship yang selalu mengutamakan diplomasi dan negosiasi Indonesia harus menjadi leader dan menejer dalam pengelolaan konflik wilayah maritim di Indonesia. Satu argumentasi saya adalah penyelesain melalalui konfrontasi militer sebenarnya menunjukan baik aktor yang merasa menang dan atau aktor yang kalah keduanya sama, yaitu sama-sama kalah. Oleh sebab itu, menurut saya logika Indonesia sudah tepat. Hal ini juga menjawab bagaimana karakter politik luar negeri Indonesia yang tidak konsisten dan cenderung pragmatis.

 

Menurut saya hal itu sudah tepat karena  Indonesia bukan negara super yang memiliki banyak uang, kuat dalam bidang politik internasional, digdaya dalam militer maka bebas aktif adalah yang tepat dalam kondisi ini. Artinya Indonesia selalu menjadi leader untuk mengambil keuntungan dari semua situasi. Karena yang berubah dalam hubungan internasional adalah situasi. Lebih detail, ada 4 hal yang mungkin berubah yaitu Revolusi peran negara, ancaman prevelensi perang antar negara, perubuahan lingkungan strategis serta peran teknologi informasi. Konsekuensi ini harus dimaknai oleh Indonesia menghadapi tantangan regional dengan metode diplomasi. Sehingga kita sebagai negara akan selalu bekerjasama dengan siappuan dan mengambil keuntungan dari siapapun. Hal ini memang tergolong licik tapi sebagai negara kita harus paham memaknai situasi.  

 

Maka menurut penulis untuk mengembalikan ASEAN sebagai organisasi yang ramah maka logika institusinya harus harmonisasi bukan logika konsekuensi. Artinya Indonesia memiliki peran penting dalam memaknai situasi geopolitik di Asia Tenggara oleh sebab itu pendekatan Partnership diplomasi adalah yang utama tentunya dengan menggunakan paradigma konstruktivisme. Sehingga, Indonesia tetap dikenal sebagai negara peace maker dan mediator ulung baik regional maupun internasional. Keberhasilan Indonesia dalam merespon tantangan regional yang terus berubah maka Indonesia harus menjaga kestabilan regional adalah citra positif.


(HI.id): Menurut pendapat anda, bagaimana Indonesia harus merespon kondisi ini?

 

(LOMF): Dalam menyelesaikan masalah tantangan regional ada tiga hal yang harus dipahami yaitu level kolaborasi, tingkat kerumitan masalah dan kapasitas menyelesaikan masalah. Buzan mengatakan setiap negara harus memahami asal ancaman, nilai ancaman, yang bertanggung jawab atas ancaman, pola respon perubahan menyelesasiakan ancaman. Berangkat dari kata Buzan tersebut saya memaknainya adalah tantangan penyelesaian masalah geopolitik di Indonesia adalah tantangan internal dan eksternal.  Tantangan internalnya misalnya anggaran, pertahanan dan keamananan dan kelembagaan. Contoh untk mengelola laut kita butuh uang banyak kalau di buku pak Bernard Limbong, 2015 kita butuh 7200 Triliun. Persoalannya adalah kita bukan hanya mengembangkan laut ada pembangunan lain. Lebih lanjut, konsekuensinya adalah pertahanan dan kemanan kita tidak mendapatkan porsi yang baik dengan luas wilayah dari Sabang sampai merauke jelas saja kita butuh uang banyak untuk merevitalisasi peralatan pertahanan dan keamanan. Memang benar Kemenhan mendaptkan porsi 126 T untuk anggaran terbaru naik dari 107 T anggaran sebelumnya. Namun apakah sudah cukup untuk membiayai wilayah kita?

 

Image: La Ode Muhammad Fathun

 

Penulis pernah melakukan riset bersama Balitbang Kemhan dan turun lansung di beberapa wilayah perbatasan, kami menemukan bahwa jangankan bertahan dari musuh, para penjaga saja setengah mati menjangkau wilayah operasi. Namun penulis sepakat apabila ASEAN sudah konsisten memahami lingkungan strategisnya maka pertahanan dan keamaanan bukan domain utama tapi persoalannya tantangan geopolitik bukan hanya lahir dari regional. Kita selesai di regional belum tentu internasional contoh logika Tiongkok memaknai laut adalah logika konsekuensi sehinggga selalu berfikir untuk rugi. Ancaman Tiongkok di beberapa sisi dan menarik konflik bersama negara besar lainya sehingga menuntut ASEAN harus memiliki pandangan yang sama atau regionalisme complex artinya menciptakan ketahanan regional. Ancaman regional terkait batas wilayah menurut saya  tidak akan sampai pada logika konfrontasi.

 

Disisi lainya ancaman non tradisional justru semakin banyak trutama menyangkut keamanan manusia. Ancaman teesebut adalah narkoba, senjata ilegal, penyelundupan manusia, terorisme maritim, pembajakan. Logika negara dan logika para pengancam non tradisional ini berbeda karena mereka berfikir untung dan rugi sementara negara berfikir harmonisasi. Kita bisa lihat betapa masifnya narkoba, pencurian ikan ilegal padahal sudah banyak hukum yang mengaturnya. Akibatnya negara kewalahan seperti yang telah saya sampaikan di atas tentang empat poin perubahan dunia. Memahami ini maka memang harus mengkombinasikan tiga domain utama yakni security, sovereignity dan prosperity. Seandainya semua negara memiliki logika yang sama maka membangun militer bukan hal utama lagi ketika keamanan sudah menjadi project bersama dan kedaulatan adalah hal yang harus dihormati bersama sehingga poin dasar kitaadalah memajukan ekonomi.


(HI.id): Menurut pendapat anda, siapkah Indonesia menghadapi ancaman tradisional dari negara-negara di Asia Tenggara?

 

(LOMF): Menurut saya mau tidak mau Indonesia harus siap karena perubahan lingkungan strategis selalu berubah. Namun harus digaris bawahi adalah pemaknaan ancaman itu. Saya sudah menjelaskanya di buku itu dengan analisis Copenhagen dan Canadian School. Intinya kesiapan itu harus dibarengi dengan strategi.

 

Ada tiga pendekatan dalam menghadapi ancaman tergantung kemampuan kita. Pertama adalah sea denial dimana kemampuan negara untuk melakukan penangkalan apabila terjadi ancaman atau konsep ini setara dengan deterens yakni memukul psikologis para pengancam. Namun strategi ini tidak selalu efektif karena tidak selalu pengancam memiliki mental yang lemah biasanya mereka sudah siap bertarung. Kedua, sea control konsep ini relevan dengan kemampuan negara dalam mengotrol atau mengendalikan laut. Aktivitasnya adalah melakukan tindakan serangan terhadap pengancam namun bukan untuk melumpuhkan keseluruhan. Lebih lanjut, layer control strategy dan militery projection pola ini adalah tindakan untuk menghancurkan agar si pengancam agar tidak mengulang aksinya. Namun semua strategi ini disesuiakan dengan kemampuan negara. Hal yang harus dipikirkan adalah jumlah personil, anggaran, peralatan militer, koordinasi, kualitas diplomasi, dan teknologi informasi


(HI.id): Apa saran anda untuk pembaca/penstudi Hubungan Internasional?

 

(LOMF): Menurut saya para mahasiswa HI lemah dalam konteks teori sehingga beberapa karya yang telah saya baca dan review analisisnya lemah sebelum di revisi. Teori memang mata kuliah membosankan tapi mata kuliah ini adalah penentu bagus tidaknya analisis. Selain itu dalam konteks sifat mahasiswa sekarang lebih suka instan berbeda dengan penstudi HI sebelumnya. Untuk itu sebagai dosen kita juga harus lebih kreatif dalam memberikan pelajaran. Kita tidak harus menjadi Guru lagi tapi kita harus penjadi partner mereka. Ada tiga hal yang harus dimiliki dosen di era ini yakni imajinatif, kreatif dan friendship. Walaupun tetap dalam koridor saling menghargai. Anak-anak harus dilatih disiplin, kerjakeras, jujur, teliti dan tentunya bekal IT dan cara berkomunikasi. Tantangan era ini sangat banyak maka harus bisa berkompetisi.


(HI.id): Apakah anda berkenan dihubungi jika ada yang ingin bertanya terkait buku ini?

 

(LOMF): Saya siap dihubungi 085255125544 Laodemuhammadfathun@upnvj.ac.id

 

(HI.id): Terima kasih atas kebersediaannya menjawab pertanyaan dari kami

 

(LOMF): Terima kasih kembali semoga bermanfaat

 

  • Penulis : Admin
  • Deskripsi :
comments powered by Disqus