Nov 21, 2018
  • Hubungan Internasional
  • 081226993704
  • -

Migrasi dan Transnasionalisme di Pasifik Selatan

  • Jendela Buku HI
  • Oct 25, 2018
  • 182

Migrasi merupakan salah satu fenomena dalam Hubungan Internasional yang lagi marak terjadi. Hal ini tidak terlepas dari faktor pendorong dari negara asal seperti misalnya kondisi kesejahteraan yang kurang, bencana alam atau bahkan perang, serta faktor penarik dari negara tujuan seperti kehidupan yang lebih baik, pekerjaan, kebebasan dan lain-lain. Permasalahan migrasi ini ternyata tidak selalu menyelesaikan masalah. Justru masalah-masalah baru muncul dari fenomena ini seperti negara asal yang ditinggalkan, negara tujuan yang dituju sampai pada pelaku migrasi itu sendiri.

 

Pembahasan mengenai isu migrasi ini ternyata mendapatkan perhatian khusus di mata salah seorang dosen dari Prodi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Isu tersebut dibahas dalam sebuah buku dengan judul “Migrasi dan Transnasionalisme di Pasifik Selatan” yang ditulis oleh Dra. Baiq Wardhani, M.A., Ph.D. Pada karyanya kali ini, Baiq Wardhani menggandeng M. Doni Faisal dan Theodora D. Paramita yang mana keduanya merupakan alumni HI FISIP UNAIR. Hubunganinternasional.id pun mencoba menghubungi HI-ma’am yang bernama Baiq Wardhani untuk bertanya terkait beberapa hal. Mari simak wawancaranya di bawah ini:

 

Hubunganinternasional.id (HI.id): Apa yang melatarbelakangi anda dan tim menulis buku yang berjudul “Migrasi dan Transnasionalisme di Pasifik Selatan?”

 

Baiq Wardhani (B.W): Buku ini hadir karena beberapa sebab:

 

(1) Sedikitnya bahan bacaan yang tersedia tentang Pasifik Selatan karena tidak banyak orang Indonesia yang tertarik dengan wilayah ini;

 

(2) Untuk memenuhi tuntutan para mahasiswa, khususnya di HI FISIP Unair, yang mengambil mata kuliah Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik Australia, Timor Leste, dan Pasifik Barat Daya;

 

(3) Untuk kepentingan umum, khususnya pengembil kebijakan, politisi, jurnalis, maupun mereka yang awam dengan Pasifik Selatan;

 

(4) Untuk mengabadikan karya ilmiah dan/atau tugas akhir mahasiswa dan/alumni yang menulis topik tentang Pasifik Selatan. Saya berharap ini tidak mengurangi apresiasi pembaca dalam menilai karya mereka. Saya mengapresiasi upaya mereka yang luar biasa sehubungan dengan terbatasnya sumber bacaan yang baik tentang kawasan Pasifik Selatan;

 

(5) Sebagai pengejawantahan program fakultas, yaitu reworking dan kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam berkarya ilmiah. Selama ini banyak karya ilmiah mahasiswa/alumni yang bagus kualitasnya namun tidak mendapat exposure yang cukup, padahal karya mereka bisa memberi sumbangan akademik yang sangat berarti.  

 

Image: Baiq Wardhani. Dokumentasi Pribadi

 

(HI.id): Apa alasan dibalik pemilihan Pasifik Selatan sebagai region yang dikaji dalam buku ini?

 

(B.W): Ada beberapa alasan antara lain:

 

(1) Pasifik Selatan adalah salah satu kawasan yang paling dekat secara geografis dengan Indonesia tetapi orang Indonesia sangat awam dengan Pasifik Selatan. Ini merupakan ironi karena kedekatan geografis adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Kedekatan geografis membawa implikasi dalam banyak bidang, baik itu politik, sosial, ekonomi, kultural, dan sebagainya. Mengabaikan kawasan terdekat dapat berdampak negatif bagi Indonesia;

 

(2) Beberapa universitas di Indonesia mulai banyak yang menawarkan mata kuliah yang berkaitan dengan Australia dan Pasifik Selatan, tetapi terbatasnya bahan bacaan menjadi salah satu penyebab tidak terlalu diminatinya mata kuliah tersebut. Di HI FISIP Unair mata kuliah ini ditawarkan sejak saya masih menjadi mahasiswa pada awal 1980-an dan masih terdapat di kurikulum kami, tetapi peminatnya tidak pernah banyak (tidak pernah lebih dari 20 orang). Di satu pihak ini memberi kelebihan tersendiri karena pembelajaran yang efisien dan efektif, namun di sisi lain menunjukkan ketidaktahuan, mungkin juga ketidakpedualian pada salah satu kawasan terdekat Indonesia;

 

(3) Pasifik Selatan semakin banyak menjadi perhatian internasional karena banyaknya masalah global yang dihadapi, seperti perubahan iklim dan masalah lingkungan, migrasi, kejahatan transnasional, poor governance, ketergantungan pada bantuan luar negeri; resiko bencana alam, gerakan pemisahan diri, dan masih banyak masalah lainnya.

 

(HI.id): Berapa lama proses pengerjaan buku ini?

 

(B.W): Efektifnya sekitar 6 bulan, walaupun bahan penulisan sudah ada sekitar 1 tahun yang lalu.

 

(HI.id): Buku yang ditulis oleh beberapa penulis biasanya memiliki tantangan tersendiri dalam hal penyatuan ide dan gagasan. Adakah hal menarik yang bisa diceritakan dalam proses pengerjaannya?

 

(B.W): Tidak terlalu repot dengan urusan penyatuan ide dan gagasan. Saya yang mengikuti irama mereka karena naskah mereka sudah ada terlebih dahulu.  Yang terberat bagi saya adalah, saya bertugas mencari benang merah dari dua tulisan tersebut agar tulisan itu lebih make sense, terutama bagi pembaca yang masih awam dengan persoalan di Pasifik. Untuk memahami secara lebih komprehensif, saya banyak juga membaca tentang kebijakan Migration with Dignity Kiribati dan kebijakan Skill Select Australia. Yang juga agak repot adalah urusan teknis, seperti editing footnote, referensi, dan hal-hal semacam itu.

 

(HI.id): Tolong jelaskan perbedaan mendasar migrasi yang terjadi di Pasifik Selatan dengan migrasi yang terjadi di tempat lain, misalnya di Timur Tengah

 

(B.W): Pada dasarnya setiap wilayah punya keunikan tersendiri dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain. Migrasi di Pasifik Selatan yang terjadi dalam tiga sampai empat dekade ini didorong oleh faktor perubahan iklim yang berpotensi besar menenggelamkan negara-negara yang berstatus low lying islands.  Sebetulnya masalah perpindahan manusia di Pasifik Selatan bukan hal baru karena perpindahan itu telah menjadi kebiasaan mereka sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Yang unik di Pasifik Selatan adalah faktor alam yang menjadi pendorong mereka untuk bermigrasi akhir-akhir ini. Selain faktor alam juga terdapat faktor push and pull yang berkaitan dengan tenaga kerja yang khas Pasifik.

 

Image: http://catalog.aup.unair.ac.id/home/306-migrasi-dan-transnasionalisme-di-pasifik-selatan-9786024730239.html

 

(HI.id): Mengapa anda memilih menggunakan konsep migration with dignity dalam menganalisis fenomena ini?

 

(B.W): Migration with Dignity adalah kebijakan migrasi resmi Negara Kiribati yang dinyatakan oleh Presiden Anote Tong (masa jabatan berakhir, sekarang sudah diganti oleh Presiden Taneti Mamau).  Kami tidak memilih sendiri konsep tersebut. Migration with Dignity adalah kebijakan migrasi yang unik dan cerdas, namun sayangnya belum ada aturan hukum internasional yang mengaturnya.

 

(HI.id): Apa pesan yang ingin anda sampaikan kepada para pembaca melalui tulisan ini?

 

(B.W): Kenalilah Pasifik Selatan, salah satu kawasan terdekat Indonesia yang memiliki banyak persoalan, tetapi kita tidak mengetahuinya.

 

(HI.id): Apakah anda berkenan jika ada pembaca yang ingin menghubungi anda untuk diskusi ataupun sharing terkait tema ini melalui email?

 

(B.W): Silakan menghubungi email: baiq.wardhani@fisip.unair.ac.id

 

(HI.id): Terimakasih atas kebersediaan anda menjawab pertanyaan dari hubunganinternasional.id

 

Pada sesi berikut ini, hubunganinternasional.id mencoba memberikan kesempatan kepada salah satu HI-bro untuk belajar menuliskan resensi “Migrasi dan Transnasionalisme di Pasifik Selatan” Alasannya tentu karena salah satu calon pembaca potensial dari buku ini tentunya adalah mahasiswa S1 Hubungan Internasional. Tujuan dibuatnya resensi ini adalah untuk melihat bagaimana buku ini dapat "dicerna" dengan baik oleh pembacanya dengan harapan para calon pembaca berikutnya juga dapat melakukan hal yang sama mengingat salah satu hal yang fundamental dari membaca adalah transfer ilmu dari penulis terhadap pembaca. Berikut adalah hasil resensi dari seorang HI-bro yang selain sedang berjibaku dengan tugas kuliah, juga sedang dalam proses belajar memberikan resensi. Selamat membaca!

 


Pemberi resensi   :     William Lie
Editor                  :     Randhi Satria

 

Tulisan ini merupakan hasil resensi saya terhadap buku “Migrasi & Transnasionalisme di Pasifik Selatan” Karya tiga penulis utama yaitu Baiq Wardhani, M. Doni Faisal, dan Theodora D. Paramita. Tujuan dari resensi ini adalah untuk mengekplorasi mengenai permasalahan-permasalahan migrasi dan transnasionalisme di daerah Pasifik Selatan yang meliputi negara-negara Australia, Selandia Baru, Mikronesia, Polinesia, dan Melanesia.

 

Dalam buku ini, saya menemukan bahwa Baiq Wardhani, M. Doni Faisal, dan Theodora D. Paramita (2018) menyampaikan pokok permasalahan dalam lingkup migrasi dan transnasionalisme yaitu “migration with dignity” dimana konsep ini didefinisikan sebagai migrasi yang memiliki martabat akibat adanya tekanan-tekanan yang bersifat alamiah dan tentunya dibarengi penguasaan skill yang mumpuni sehingga bukan hanya sekedar migrasi akibat tekanan ekonomi hingga bencana peperangan. Penulis juga mendefinisikan permasalahan tersebut ke dalam konsep transnasionalisme dikarenakan migrasi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di Pasifik Selatan khususnya negara-negara yang termasuk Polinesia, Mikronesia, dan Melanesia sudah melewati yurisdiksi di negara-negara asal mereka sehingga permasalahan tersebut bukan hanya ketidakseimbangan penduduk antar daerah namun juga menyangkut ketidakseimbangan penduduk antar negara.

 

Image: William Lie. Mahasiswa Semester 5 Hubungan Internasional FISIP UNS. Dokumentasi Pribadi

 

Negara- negara di Pasifik Selatan yang terhimpun dalam Alliance of Small Island States (AOSIS) merupakan negara dengan resiko ancaman yang cukup tinggi akibat pemanasan global yaitu kenaikan air laut. Hal ini berdampak kepada prinsip ketahanan suatu negara. Dalam studi kasus yang dijelaskan, Kiribati melakukan strategi adaptasi dengan tujuan untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan dalam menghadapi dampak buruk dari perubahan iklim yaitu salah satunya dengan cara migration with dignity. Migration with dignity akan dapat memastikan bahwa I-Kiribati (warga negara Kiribati) akan survive di negara tujuan apabila mereka memiliki keterampilan yang memadai sehingga mereka mampu hidup dengan dignity.

 

Selain Kiribati, Fiji juga melakukan strategi adaptasi atas tuntutan Australia yang melakukan skill-select dalam menyeleksi imigran-imigran yang datang ke negaranyanya. Strategi yang dilakukan oleh Fiji ialah bilateral and multilateral base policy dimana Fiji memaksimalkan peran forum-forum kerjasama untuk meningkatkan partisipasi warganya dalam menghadapi skill-select seperti melibatkan diri pada pasukan perdamaian PBB hingga memaksimalkan kuota SCV (Special Visa Category).

 

Pada akhirnya kita dapat melihat gambaran bagaimana isu lingkungan seperti kenaikan air laut dapat menjadi ancaman bagi sebuah negara. Kerentanan sebagai hasil dari fenomena kenaikan air laut dapat memberikan tantangan bagi pemerintah negara-negara di Pasifik Selatan dalam memberikan perlindungan terhadap keamanan masyarakat dan keamanan nasionalnya.

 

Sebagai penutup, tulisan Baiq Wardhani, M. Doni Faisal, dan Theodora D. Paramita membuka jendela pengetahuan baru mengenai wilayah Pasifik Selatan dan ancamannya yang jarang diperhatikan oleh pembelajar Ilmu Hubungan Internasional di Indonesia. Buku ini cocok dibaca oleh berbagai kalangan dikarenakan bahasanya yang mudah dipahami meskipun ada beberapa keluputan redaksional menyangkut konjungsi namun hal tersebut bukanlah masalah besar. Isu-isu yang dipaparkan dalam buku ini berhasil menjadikan landasan berpikir bagi para pembaca untuk mengetahui dan menganalisis permasalahan yang terjadi di wilayah regional Pasifik. Saya merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan untuk para pegiat studi Ilmu Hubungan Internasional khususnya mahasiswa/mahasiswi yang berfokus kepada kajian kawasan regional karena buku ini, menurut saya, dapat menjadi salah satu panduan dasar dalam menganalisis fenomena-fenomena migrasi dan transnasionalisme di wilayah Pasifik Selatan.

 

Surakarta, 16 Oktober 2018
Pemberi Resensi,

 

 

William Lie
(Mahasiswa Semester 5 Hubungan Internasional FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta)

 

 

Adapun informasi lain yang bisa didapat oleh hubunganinternasional.id mengenai buku Migrasi dan Transnasionalisme di Pasifik Selatan yaitu buku ini merupakan cetakan pertama – 2018 dan merupakan buku yang diterbitkan oleh Airlangga University Press, Surabaya. Bagi para pembaca yang tertarik untuk memiliki buku ini, hubunganinternasional.id mempersilakan anda sekalian untuk langsung menghubungi pihak publisher dari buku tersebut. Cara pesan buku Migrasi dan Transnasionalisme di Pasifik Selatan bisa dengan klik di sini

 

comments powered by Disqus