Dedolarisasi sebagai Kontra-Hegemoni dan Pengaruhnya

  • May 24, 2024
  • /
  • Artikel
  • /
  • Admin
  • 783

Dedolarisasi adalah proses di mana negara-negara mengurangi ketergantungan mereka pada dolar Amerika Serikat (USD) dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan mengurangi pengaruh dolar AS terhadap ekonomi domestik.

Proses dedolarisasi dapat melibatkan beberapa langkah, termasuk (1) Diversifikasi Cadangan Mata Uang. Bank sentral negara menyimpan lebih banyak cadangan dalam mata uang lain seperti euro, yuan, yen, atau emas. (2) Perdagangan Bilateral dalam Mata Uang Lokal. Negara-negara mulai menggunakan mata uang mereka sendiri atau mata uang lain selain USD dalam perdagangan internasional. (3) Pengembangan Sistem Pembayaran Alternatif. Membangun atau bergabung dengan sistem pembayaran internasional yang tidak berbasis dolar, seperti CIPS (China International Payment System). (4) Obligasi dan Pinjaman dalam Mata Uang Lokal. Penerbitan obligasi dan mengambil pinjaman dalam mata uang selain USD.

Beberapa alasan utama dedolarisasi meliputi: (1) Mengurangi Ketergantungan Ekonomi. Negara ingin mengurangi risiko ekonomi yang terkait dengan fluktuasi nilai dolar. (2) Mengurangi Pengaruh Politik AS. Mengurangi kemampuan AS untuk mempengaruhi kebijakan ekonomi dan politik negara lain melalui kontrol terhadap akses ke dolar. (3) Stabilitas Ekonomi Domestik. Menghindari dampak negatif dari kebijakan moneter AS terhadap ekonomi domestik. (4) Penguatan Mata Uang Lokal. Meningkatkan penggunaan dan kepercayaan terhadap mata uang lokal.

Mereka yang terlibat dalam dedolarisasi diantaranya adalah (1) Negara-negara Berkembang, banyak negara berkembang yang terlibat dalam dedolarisasi untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dan meningkatkan stabilitas ekonomi. (2) Negara Ekonomi Besar. Negara seperti China dan Rusia secara aktif terlibat dalam dedolarisasi. (3) Organisasi Internasional. Lembaga seperti BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) juga mempromosikan dedolarisasi.

Dedolarisasi bukanlah fenomena baru, tetapi mendapatkan momentum lebih besar setelah krisis keuangan global 2008 dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Saat ini, upaya dedolarisasi semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir karena konflik perdagangan dan sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh AS terhadap negara-negara tertentu.

Dedolarisasi terjadi di berbagai negara di seluruh dunia. Beberapa contoh termasuk (1) China yang aktif mempromosikan penggunaan yuan dalam perdagangan internasional. (2) Rusia yang mengurangi cadangan dolar dan meningkatkan perdagangan dalam mata uang lokal. (3) Eropa yang mendorong penggunaan euro dalam perdagangan internasional untuk mengurangi ketergantungan pada dolar. (4) Iran dan Venezuela yang mengalihkan transaksi perdagangan minyak mereka ke mata uang selain dolar karena sanksi AS.

Dedolarisasi sebagai Bentuk Kontra-Hegemoni terhadap Amerika Serikat
Kontra-hegemoni adalah upaya untuk menantang dan mengurangi dominasi hegemonik satu negara atau kekuatan dalam sistem internasional. Dalam konteks ini, hegemoni merujuk pada dominasi Amerika Serikat (AS) dalam sistem ekonomi dan politik global, terutama melalui kekuatan dolar sebagai mata uang cadangan global. Dedolarisasi dapat dianggap sebagai bentuk kontra-hegemoni terhadap Amerika Serikat karena upaya ini berusaha untuk mengurangi dominasi dolar dan, dengan demikian, pengaruh AS dalam ekonomi global.

Negara-negara yang mengadopsi dedolarisasi berusaha mengurangi ketergantungan mereka pada dolar dengan menggunakan mata uang lain dalam cadangan dan transaksi internasional. Ini mengurangi kemampuan AS untuk menggunakan dolar sebagai alat kekuatan ekonomi dan politik. Dengan mempromosikan perdagangan dalam mata uang lokal atau mata uang non-dolar, negara-negara tersebut melemahkan posisi dolar sebagai mata uang utama dalam perdagangan global.

Negara-negara yang terkena sanksi AS, seperti Iran dan Rusia, mendorong dedolarisasi untuk menghindari dampak sanksi tersebut. Dengan mengurangi ketergantungan pada dolar, negara-negara ini dapat lebih mandiri secara ekonomi dan kurang rentan terhadap tekanan politik dari AS. Dengan mengurangi ketergantungan pada dolar, negara-negara dapat memiliki lebih banyak kendali atas kebijakan moneter dan fiskal mereka, tanpa harus mempertimbangkan dampak kebijakan moneter AS terhadap ekonomi mereka.

Aliansi seperti BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) aktif mempromosikan penggunaan mata uang mereka sendiri dalam perdagangan internasional, sebagai upaya untuk mengurangi dominasi dolar dan, dengan demikian, pengaruh AS. Pembentukan sistem pembayaran alternatif seperti CIPS oleh China dan SPFS oleh Rusia bertujuan untuk menyediakan jalur pembayaran internasional yang tidak tergantung pada sistem berbasis dolar seperti SWIFT.

Data menunjukkan penurunan proporsi dolar dalam cadangan mata uang global selama beberapa tahun terakhir, meskipun masih mendominasi. Semakin banyak negara yang menandatangani perjanjian perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal atau non-dolar. China telah meningkatkan penggunaan yuan dalam perdagangan internasional dan investasi, termasuk inisiatif Belt and Road.

Dedolarisasi dan Pengaruhnya bagi Amerika Serikat
Proses dedolarisasi memiliki beberapa dampak signifikan terhadap Amerika Serikat, baik secara ekonomi maupun geopolitik. Jika semakin banyak negara berhasil mengurangi ketergantungan mereka pada dolar, permintaan global untuk dolar akan menurun. Ini dapat mengurangi nilai dolar relatif terhadap mata uang lainnya. Penurunan permintaan dolar dapat menyebabkan inflasi di AS jika dolar melemah secara signifikan, meningkatkan harga barang impor. AS telah menikmati biaya pinjaman yang rendah karena status dolar sebagai mata uang cadangan utama. Penurunan permintaan untuk dolar dapat menyebabkan kenaikan suku bunga di AS karena permintaan untuk obligasi pemerintah AS berkurang. Biaya pembiayaan defisit anggaran AS dapat meningkat, yang bisa mempengaruhi kebijakan fiskal. Penggunaan mata uang non-dolar dalam perdagangan internasional dapat mengurangi keuntungan komparatif yang dimiliki AS dalam sistem perdagangan global yang didominasi dolar.

Dolar yang kuat memberi AS pengaruh signifikan dalam ekonomi global. Dedolarisasi dapat mengurangi pengaruh ekonomi AS karena negara-negara lain memiliki lebih banyak pilihan untuk menghindari kontrol AS melalui dolar. AS menggunakan dolar sebagai alat untuk memberlakukan sanksi ekonomi. Dedolarisasi dapat mengurangi efektivitas sanksi ini, karena negara-negara dapat beralih ke mata uang lain untuk melakukan transaksi. Negara-negara yang terdorong oleh dedolarisasi mungkin membentuk aliansi ekonomi baru yang kurang bergantung pada AS, seperti BRICS. Ini bisa mengubah dinamika geopolitik global dan melemahkan posisi strategis AS. Dominasi AS dalam lembaga-lembaga seperti IMF dan Bank Dunia, yang beroperasi terutama dalam dolar, bisa berkurang jika mata uang lain menjadi lebih penting dalam ekonomi global.

Federal Reserve mungkin perlu menyesuaikan kebijakan moneternya untuk mengatasi penurunan permintaan dolar dan dampaknya terhadap ekonomi domestik. AS mungkin akan berusaha memperkuat perjanjian perdagangan bilateral dan multilateral untuk mempertahankan dominasi dolar dan pengaruh ekonominya. Kebijakan sanksi mungkin akan menjadi lebih terarah dan difokuskan pada individu dan entitas spesifik daripada negara secara keseluruhan. AS mungkin akan mendorong reformasi di sektor keuangan untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangannya, termasuk langkah-langkah untuk meningkatkan transparansi dan stabilitas.

Dedolarisasi dan Pengaruhnya bagi Negara-negara Pelakunya
Dedolarisasi adalah langkah strategis yang diambil oleh beberapa negara untuk mengurangi ketergantungan mereka pada dolar Amerika Serikat (USD). Namun, keberhasilannya dalam memperbaiki perekonomian suatu negara bervariasi dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Rusia telah aktif dalam upaya dedolarisasi, terutama setelah sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh AS dan Uni Eropa pada 2014 akibat konflik di Ukraina. Diversifikasi cadangan devisa, meningkatkan perdagangan dalam rubel dan mata uang non-dolar, serta pengembangan sistem pembayaran SPFS sebagai alternatif SWIFT. Cadangan devisa Rusia menjadi lebih beragam, dan ketergantungan pada dolar menurun. Hal ini memberikan stabilitas lebih besar dalam menghadapi sanksi. Namun, rubel tetap berfluktuasi dan ekonomi Rusia masih rentan terhadap harga komoditas, khususnya minyak dan gas.

China mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan internasional dan investasi, sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menjadikan yuan sebagai mata uang global. Memperkenalkan CIPS untuk menggantikan SWIFT, mempromosikan penggunaan yuan melalui inisiatif Belt and Road, dan mengembangkan pasar obligasi dalam yuan. Peningkatan penggunaan yuan di pasar internasional, peningkatan investasi asing dalam obligasi China, dan peningkatan stabilitas finansial domestik.Meskipun demikian, yuan belum mampu menyaingi dolar sebagai mata uang utama global, dan masih ada tantangan dalam kebijakan moneter yang transparan dan pasar keuangan yang terbuka.

Iran melakukan dedolarisasi terutama untuk menghindari dampak sanksi ekonomi dari AS. Mengadopsi euro dan mata uang lokal dalam transaksi internasional, serta menjalin kesepakatan perdagangan bilateral dengan negara lain. Iran mampu mempertahankan beberapa perdagangan internasional meskipun berada di bawah sanksi. Perekonomian Iran tetap mengalami tekanan besar, inflasi tinggi, dan keterbatasan akses ke pasar keuangan internasional.

Turki berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar untuk mengatasi defisit transaksi berjalan dan volatilitas nilai tukar lira. Mendorong penggunaan lira dalam perdagangan internasional dan diversifikasi cadangan devisa. Beberapa peningkatan dalam stabilitas nilai tukar dan pengurangan ketergantungan pada dolar. Masalah struktural dalam ekonomi Turki, seperti defisit neraca berjalan dan inflasi, tetap menjadi tantangan besar.

Keberhasilan dedolarisasi sangat bergantung pada beberapa faktor. (1) Stabilitas Ekonomi Domestik. Negara dengan ekonomi yang stabil dan kuat lebih mungkin berhasil dalam dedolarisasi. (2) Cadangan Devisa dan Diversifikasi. Negara dengan cadangan devisa yang besar dan terdiversifikasi memiliki lebih banyak leverage dalam mengurangi ketergantungan pada dolar. (3) Kebijakan Moneter dan Fiskal yang Kuatm Kebijakan yang konsisten dan efektif sangat penting untuk mendukung proses dedolarisasi. (4) Hubungan Internasional. Kerjasama dengan negara lain untuk memfasilitasi perdagangan dalam mata uang non-dolar adalah kunci keberhasilan.

Kesimpulan
Dedolarisasi adalah upaya yang dilakukan oleh negara-negara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. Proses ini melibatkan diversifikasi cadangan mata uang, perdagangan bilateral dalam mata uang lokal, dan pengembangan sistem pembayaran alternatif. Alasan utama dedolarisasi adalah mengurangi ketergantungan ekonomi, mengurangi pengaruh politik AS, stabilitas ekonomi domestik, dan penguatan mata uang lokal. Negara-negara yang terlibat dalam dedolarisasi termasuk negara berkembang dan ekonomi besar seperti China dan Rusia. Fenomena ini semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir sebagai respons terhadap krisis keuangan global dan ketegangan geopolitik.

Dedolarisasi dapat dilihat sebagai bentuk kontra-hegemoni terhadap Amerika Serikat karena bertujuan untuk mengurangi dominasi dolar dan, dengan demikian, pengaruh ekonomi dan politik AS di panggung global. Langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara yang berpartisipasi dalam dedolarisasi mencerminkan upaya untuk mencapai kemandirian ekonomi yang lebih besar dan mengurangi kerentanan terhadap kebijakan dan sanksi AS.

Dedolarisasi dapat memiliki dampak signifikan terhadap Amerika Serikat, terutama dalam hal pengaruh ekonomi dan geopolitik. Penurunan permintaan dolar, biaya pinjaman yang lebih tinggi, dan perubahan dalam dinamika perdagangan internasional adalah beberapa dampak ekonomi yang mungkin terjadi. Secara geopolitik, pengurangan pengaruh AS, perubahan dalam efektivitas sanksi, dan pembentukan aliansi ekonomi baru bisa menjadi tantangan besar. Namun, AS memiliki beberapa cara untuk menanggapi tantangan ini melalui kebijakan moneter, diplomasi ekonomi, dan reformasi keuangan.

Dedolarisasi telah membawa beberapa manfaat bagi negara-negara yang menerapkannya, seperti peningkatan stabilitas ekonomi dan diversifikasi cadangan devisa. Namun, keberhasilannya tidak seragam dan sangat bergantung pada kondisi ekonomi domestik, kebijakan pemerintah, dan konteks internasional. Negara-negara seperti Rusia dan China telah melihat beberapa keberhasilan, tetapi tantangan besar tetap ada, termasuk volatilitas mata uang lokal dan kebutuhan untuk pasar keuangan yang lebih terbuka dan transparan.

Referensi:
Bank for International Settlements (BIS). "Central Bank Digital Currencies and Dedollarization". Basel: BIS Publications, 2021.

Eichengreen, Barry. Exorbitant Privilege: "The Rise and Fall of the Dollar and the Future of the International Monetary System". New York: Oxford University Press, 2011.

International Monetary Fund (IMF). "The Role of the US Dollar in the Global Economy." Washington, D.C.: IMF Publications, 2020.

Frieden, Jeffry A. Currency Politics: "The Political Economy of Exchange Rate Policy." Princeton: Princeton University Press, 2014.

Prasad, Eswar S. The Dollar Trap: "How the U.S. Dollar Tightened Its Grip on Global Finance." Princeton: Princeton University Press, 2014.

Uzan, Marc, ed. "The Future of the International Monetary System: Change and Reform in the 21st Century." London: Routledge, 2015.

World Bank. "Global Economic Prospects." Washington, D.C.: World Bank Publications, 2019.




Penulis: Virtuous Setyaka (Dosen Hubungan Internasional Universitas Andalas)

Email: vsetyaka@gmail.com

Editor: Tim HubunganInternasional.id


About The Author

Comments