Kemitraan Strategis Rusia – Cina: Menuju Era Diplomasi Modern

  • May 21, 2024
  • /
  • Artikel
  • /
  • Admin
  • 2840

Cina bersama Rusia telah menjalin hubungan diplomatik setelah bubarnya Uni Soviet sejak 1991. Perkembangan logika sejarah yang jelas dan kekuatan pendorong internal masing-masing negara merupakan penopang dinamisasi hubungan bilateral mencakup (The People's Republic of China Ministry of Foreign Affairs, 2023): 1) Interaksi tingkat tinggi memainkan peran strategis dalam memimpin kemitraan berkelanjutan; 2) Penguatan rasa saling percaya politik dan memupuk model baru hubungan major-powers; 3) Penerapan kerangka kerja sama yang menyeluruh dan bertingkat; 4) Tindakan berdasarkan Visi persahabatan yang langgeng dan terus-menerus memperkuat persahabatan tradisional; 5) Kedekatan koordinasi di forum internasional sebagai implementasi tanggung jawab negara besar. Lintasan sejarah perselisihan Cina dan Rusia selama ini mampu kian memperluas kerjasama militer, ekonomi-perdagangan-investasi dan diplomatik.


Di Asia Pasifik, hal ini ditandai oleh periodisasi terjalinnya kerja sama seiring persaingan strategis diantara aktor utama internasional. Bahkan, James Mattis pernah menyampaikan dalam forum pertemuan tahunan Shangri-La Dialogue di Singapura (Ng, 2018): “When Beijing do things that are opaque to the rest of us, then we cannot cooperate in areas that we would otherwise cooperate in”. Runtuhnya Uni Soviet mengakibatkan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Cina secara de facto berakhir seiring pemulihan hubungan Cina bersama Rusia dimulai (Nye, 2024). Pada 1992, kedua negara menyatakan bahwa kedua negara sedang mengupayakan kemitraan konstruktif (constructive partnership), berkembang menuju kemitraan strategis (1996), hingga di 2001 menandatangani perjanjian persahabatan dan kerja sama

.
Menurut Nye, terbentuknya aliansi Sino-Rusia pada abad ke-20 merupakan produk kelemahan Cina usai Perang Dunia II dan di awal Perang Dingin, Bahkan aliansi ini bersifat hanya mampu bertahan kurang dari satu dekade. Cina secara ekonomi maupun politik saat ini merupakan negara kuat. Cina tidak mungkin bisa menyamai Rusia yang saat ini mengalami percepatan kemuduran diakibatkan memburuknya kepemimpinan nasional. Strategi pembangunan Cina bergantung pada integrasi keberkelanjutan ke dalam perekonomian internasional dan khususnya aksesibilitas yang dapat diandalkan ke pasar dan teknologi AS. Legitimasi Partai Komunis Cina (PKC) bergantung pada kekuatan pertumbuhan ekonomi dan PKC tidak akan pernah mempertaruhkan strategi aliansi otoriter (authoritarian alliance) dengan Rusia.

Image: Source


Keterjalinan hubungan bilateral selama beberapa dekade di tengah berkecamuknya konflik Ukraina justru kian memosisikan ekstensifikasi kerjasama strategis. Sejumlah kapal perang Cina dan Rusia di Juli 2023 melakukan 20 latihan tempur di Laut Jepang sebelum mengawali patroli bersama (joint-military patrols) sejauh 2.300 mil laut, sekitar perairan dekat Alaska (AS). Kegiatan operasi militer yang diselenggarakan menggambarkan tingkat rasa saling percaya strategis antar-negara yang terjalin erat dan berkelanjutan (Lin, 2023). Selain itu, secara geopolitik dan geostrategis Indonesia merupakan negara utama kawasan disebabkan letak strategis yang berada dua benua dan dua samudera sehingga menjadi jalur komunikasi (Sea Lines of Communication/SLOC) dan jalur perdagangan (Sea Lanes of Trade/SLOT). Empat dari sembilan choke points dunia berada di Indonesia, antara lain: 1) Selat Malaka (Malacca Strait), 2) Selat Sunda (Sunda Strait), 3) Selat Makassar (Makassar Strait), dan 4) Selat Lombok (Lombok Strait) menghubungkan tiga Alur Laut Kepulauan Indonesia/ALKI dari utara hingga Selatan sebagai bentuk pertanggungjawaban Indonesia sebagai Negara Kepulauan (Marsetio, 2018).


Posisi strategis Indonesia selanjutnya turut berkontribusi bagi perkembangan ekonomi sejumlah negara industry maju, seperti Amerika Serikat (AS), Cina, Korea, Jepang, dan Australia karena supply energi negara-negara tersebut dari Timur Tengah yang seluruhnya dibawa melintasi perairan Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Natuna, dan Laut Sulawesi.


Di 2013, kemitraan koordinasi strategis yang komprehensif melibatkan Republik Rakyat Cina dan Federasi Rusia terus bergerak dinamis diawali dari titik awal Sejarah dimulainya hubungan bilateral (The People's Republic of China Ministry of Foreign Affairs, 2013). Peningkatan rasa saling percaya politik antar-negara semakin diperkuat, pertukaran dan pemberdayaan kerja sama di berbagai sektor kerjasama membuahkan hasil penting, serta intensifikasi koordinasi strategis yang signifikan. Perayaan 75 tahun hubungan diplomatik dua negara pada 2 Oktober 2024 turut menjadi simbol sinergitas major-powers di Asia Pasifik dalam mengimbangi dominasi AS. Kerja sama Beijing dan Moskow lebih lanjut semakin didorong keinginan membatasi hegemoni AS dalam sistem global, meskipun masih terdapat berbagai tantangan hingga kini. Pada 16 hingga 17 Mei 2024 Presiden Vladimir Putin mengadakan kunjungan kenegaraan ke Beijing Cina dan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing.


Pernyataan bersama yang ditandatangani oleh pemimpin dua negara bertujuan untuk pendalaman kemitraan koordinasi strategis komprehensif Cina dan Rusia di era baru diplomasi khususnya terkait peringatan 75 tahun penggalangan hubungan bilateral diplomatik (The State Council The People's Republic of China, 2024). Momentum pertemuan pemimpin kedua negara bersahabat ini bagaimanapun telah merefleksikan upaya bersama untuk semakin mengeksplorasi berbagai peluang kerja sama dan intensifikasi peningkatan kemitraan strategis. Presiden Putin menyatakan sangatlah penting bahwa hubungan antara Rusia dan Cina tidak hanya menekankan pertimbangan jangka pendek (short-term consideration) selain tidak ditujukan terhadap pihak manapun.


Namun demikian bagi Rusia, keinginan sejumlah negara Barat untuk mengisolasi Rusia dalam politik internasional dan mengagendakan secara strategis untuk meniadakan Moskwa sebagai aktor global, sama sekali tidak membuat Kremlin diintimidasi (Interaffairs.ru, 2024). Cina bersama Rusia semakin memperluas hubungan ekonomi perdagangan dan investasi seiring Kerjasama pertahanan-militer selama dekade terakhir, namun faktanya bukanlah sekutu formal (formal allies). Konflik berkepanjangan di Ukraina kemungkinan besar menjadi titik balik dalam hubungan kedua negara (turning point relations). Sementara Maizland dan Fong menguraikan kecenderungan Barat yang memandang kedekatan dua negara otoriter tersebut mengancam hegemoni Amerika Serikat dalam institusi internasional (Council on Foreign Relations, 2024).


Kerja sama dua negara dalam urusan global adalah salah satu faktor stabilitas utama pada level internasional internasional. Kedua negara sejatinya bertindak bersama untuk menegakkan prinsip keadilan dan tatanan dunia demokratis yang mencerminkan realitas multipolar dan berdasarkan hukum internasional (Kremlin.ru, 2024). Selama periode tersebut, dua pemimpin negara ini bertemu setidaknya 43 kali khususnya dalam pemetaan bidang-bidang strategis (strategic mapping) sehubungan upaya bersama menjaga dinamika pertumbuhan interaksi Cina berjalan Rusia yang berjalan stabil, cepat dan dinamis.


Sedangkan bagi Washington D.C, dua negara ini telah menjadi kompetitor utama (major competitor) dan rival geopolitik dalam memengaruhi dinamika politik internasional saat ini dan pada masa mendatang. Kedatangan Presiden Putin di Beijing turut menjadi top trending di platform media sosial China, Weibo, dengan 1,4 juta permintaan pencarian di tengah banyaknya postingan gambar, video dan komentar. Kedua kepala negara bersahabat tersebut juga menghadiri malam gala merayakan 75 tahun sejak pemerintahan Uni Soviet mengakui Republik Rakyat China (dideklarasi Mao Zedong di 1949).


Dua negara major-power di Asia Pasifik ini sebelumnya telah mendeklarasikan hubungan kemitraan tanpa batas (borderless partnership relations) pada Pebruari 2022, sebelum diumumkan kegiatan operasi militer khusus oleh Kremlin (special military operation) ke wilayah Ukraina pada 24 Pebruari. Peran Beijing cukup strategis menyikapi kunjungan Presiden Putin hingga akhirnya Kremlin memutuskan untuk mengirimkan ribuan pasukan militer Rusia ke Ukraina. Hal tersebut menurut pandangan sejumlah pemimpin negara Barat nantinya memicu perang darat paling mematikan di benua Eropa sejak Perang Dunia II berakhir.


Keputusan Kremlin atas Cina sebagai tujuan pertama kunjungan luar negeri sejak dilantik kembali menjadi Presiden Rusia di 2024 hingga 2030 mendatang, menandakan bahwa keputusan Presiden Putin merupakan pesan kepada dunia internasional terkait pencapaian orientasi luar negeri (foreign policy orientation achievement), menekankan prioritas hubungan bilateral (bilateral relations priorities) dan eksplorasi kedalaman hubungan antar kepala negara.


Moskow dan Beijing bagaimanapun telah membangun soliditas rekam jejak berkelanjutan dan terukur terkait agenda pemberdayaan dan peningkatan kerja sama strategis melalui interaksi diplomatik pada semua tingkatan. Perdagangan bilateral di 2023 dapat meningkat hampir 25% dan mencapai US$227 miliar, yang merupakan hasil yang cukup positif bagi dinamika ekonomi regional. Cina sendiri adalah mitra dagang dan ekonomi utama Rusia. Bahkan Rusia menjadi mitra dagang terbesar keempat Cina, yang sebagian merupakan penerapan rencana pembangunan mencakup sektor-sektor utama rencana kerja sama ekonomi Rusia - Cina hingga 2030.

Referensi:

Council on Foreign Relations. (2024, 20 Maret). China and Russia: Exploring Ties Between Two Authoritarian Powers. Diakses dari https://www.cfr.org/backgrounder/china-russia-relationship-xi-putin-taiwan-ukraine pada 2 Mei 2024

Interaffairs.ru. (2024, 20 April). Foreign Minister Sergey Lavrov’s interview with the radio stations Sputnik, Govorit Moskva, and Konsomolskaya Pravda. Diakses dari https://en.interaffairs.ru/article/sergey-lavrov-western-countries-are-failing-to-understand-that-if-we-are-put-in-a-situation-where/ pada 10 Mei 2024

Kremlin.ru. (2024, 16 Mei). Beginning of the conversation with President of China Xi Jinping. Diakses dari http://en.kremlin.ru/events/president/transcripts/74046 pada 16 Mei 2024

Lin, B. (2023, 11 September). The China-Russia Axis Takes Shape. Diakses dari https://foreignpolicy.com/2023/09/11/china-russia-alliance-cooperation-brics-sco-economy-military-war-ukraine-putin-xi/ pada 1 Mei 2024

Marsetio. (2018, 26 Juli). Orasi Ilmiah Guru Besar Universitas Pertahanan: Perubahan Tatanan Geomaritim Pasca Pembentukan US Indo Pacific Command dan Implikasinya Terhadap Konflik Laut Cina Selatan Dalam Perspektif Indonesia. Jakarta, Indonesia: Universitas Pertahanan RI

Ng, T. (2018, 1 Juni). Five things to watch for at the Shangri-La Dialogue in Singapore. Diakses dari https://www.scmp.com/news/china/diplomacy-defence/article/2148909/five-things-watch-shangri-la-dialogue-singapore pada 30 April 2024

Nye, J. S. (2024, 17 Mei). A new Sino-Russian alliance? Diakses dari https://www.koreatimes.co.kr/www/opinion/2024/05/137_172063.html pada 17 Mei 2024

The People's Republic of China - Ministry of Foreign Affairs. (2023, 20 Maret). Forging Ahead to Open a New Chapter of China-Russia Friendship, Cooperation and Common Development. Diakses dari https://www.fmprc.gov.cn/eng/gjhdq_665435/3265_665445/3220_664352/3221_664354/202303/t20230320_11044359.html pada 25 Maret 2024

The People's Republic of China - Ministry of Foreign Affairs. (2013). China and Russia. Diakses dari https://www.fmprc.gov.cn/eng/gjhdq_665435/3265_665445/3220_664352/ pada 5 Mei 2024




Penulis:

Hondor Saragih (Dosen Universitas Pertahanan RI)

Rahmat Pannyiwi (Dosen Universitas Pertahanan RI)

Hendra Manurung (Dosen Universitas Pertahanan RI)

Email: -

Editor: Tim HubunganInternasional.id


About The Author

Comments